Tuesday, May 2, 2017

DOSTOYEVSKY, KEBOHONGAN IDEOLOGIS & KHILAFAHISME


Yang paling menjijikkan bukanlah kebohongan-2 buatan mereka, toh selalu ada orang yang akan memaafkan berbagai kebohongan. (Bahkan) kebohongan juga bisa menarik, karena ia menuntun kita kepada pencarian kebenaran. Yang paling menjijikkan adalah ketika mereka berbohong dan menyembah kebohongan-2 itu." (Fyodor Dostoyevsky, novelis termasyhur, filsuf, dan wartawan asal Rusia, 1821-1881)

Kebohongan dan perilaku para pembohong adalah dua hal yang berbeda kendati tak terpisahkan antara satu dengan yg lain. Pembohong pastinya akan selalu terkait dengan kebohongan dan kebohongan tidak akan muncul begitu saja tanpa ada subyek yang menjadi pelaksananya. Namun demikian, para pembohong memiliki gradasi karena konteks mereka berbohong juga berbeda-beda. Mulai dari berbohong karena ketidak sengajaan atau keterpaksaan, sampai pada berohong paling mengerikan dan menjijikkan, yakni berbohong sambil meyakini dan menyembah kebohongan-kebohongan sebagai kebenaran.

Dewasa ini bangsa kita sedang menghadapi pembohong-2 semacam itu. Mereka menawarkan, menjajakan, dan menyebarkan ideologi Khilafahisme untuk menggantikan ideologi bangsa dan negara Indonesia, Pancasila. Ideologi Khilafahisme didasari oleh gagasan yg sama dengan ideologi-ideologi totaliter: menolak prinsip-prinsip dasar hak-hak asasi manusia dan demokrasi sebagai landasan kehidupan bermasyarakat dan bernegara modern. Seperti ideologi-ideologi totaliter lain yg pernah ada, Khilafahisme bersifat monolitik, eksklusif, dan karenanya menafikan dimensi kemandirian warganegara vis-a-vis negara. Negara adalah dianggap sebagai representasi Keilahian dan karenanya pemimpinnya dianggap tidak bisa diganggu gugat. Itulah sebabnya upaya mendirikan Negara Khilafah, seperti yang diraktikkan ISIS, menghasilkan sebuah rezim politik yang brutal, teroristik yang anti terhadap nilai-2 kemanusiaan universal serta peradaban.

Khilafahisme, sebagaimana digembar-gemborkan oleh para pendukungnya saat ini, tidak sama dengan Khulafaur Rasyidun pasca-wafatnya Rasulullah saw. Khilafahisme hanya mengapropriasi nama yg mirip utk membungkus ideologi yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai profetis (kenabian) beliau. Kebohongan ideologi Khilafahisme, dengan demikian, sangat berbahaya karena ia dibungkus dengan berbagai wacana dan praksis yang seakan-akan suci karena memakai tafsir ajaran Islam. Melalui strategi dan taktik itu, mereka yg mempropagandakan Khilafahisme berlagak menjadi pembawa "mandat dari langit" dan siapapun yg menolak mereka akan dicap "kafir", "taghut" atau minimum sesat dan sebagai musuh. Kebohongan ideologis semacam ini adalah yang bukan saja membahayakan, tetapi juga paling menjijikkan. Berhati-hatilah!
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS