Thursday, July 6, 2017

HALAL BIHALAL UTK MERAJUT KEBERSAMAAN DI DALAM KEBHINEKAAN NKRI

 
Oleh Muhammad AS Hikam

1. Iftitah

“Innal hamda lillah. Wana’udzubillahi min syururi anfusinaa wa min sayyiaati a’maalina. Man yahdihillahu fahuwal muhtadi, waman yudhlilhu falan tajida lahu waliyyan mursyidaa. Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna sayyidana muhammadan ‘abduhu wa rasullullahu, shallalaahu ‘alaihi wa sallama, la nabiyya ba’dah. Wa ’alaa aalihi wa ashaabihii wa man tabi’ahum ilaa yaumil qiyaamah. Wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Qaalallahu ta’aala fi kitabihil kariim:

‘Walitukmilul ‘iddata walitukabbirullaaha ‘ala maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun..’ (2:185)

Shodaqollahul ‘adzim wa shodaqo rasulihil kariim. ‘AMMA BA’DU

Yang saya hormati Bapak Kepala dan seluruh jajaran pimpinan Badan Standardisasi Nasional (BSN)
Yang saya hormati seluruh staff dan karyawan BSN
Para hadirin & hadirat keluarga besar BSN yang berbahagia,

Marilah kita bersyukur ke hadirat Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, yg telah memberikan karuniaNya berupa kesehatan, kemauan, dan kemampuan kepada kita sehingga dapat bersilaturrahim pada pagi hari ini dalam rangka Halal Bi Halal di lingkungan BSN tahun ini. Insya Allah melalui tradisi yang baik ini kita semua bukan saja berkesempatan untuk merayakan Hari Kemenangan, Hari Kembali ke pada Fithrah (Iedul Fitr), tetapi juga memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas, baik dalam konteks komunitas di BSN maupun yang lebih luas, yakni persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwwah wathoniyyah) dan persaudaraan serta solidaritas kemanusiaan (ukhuwwah basyariyah) serta persaudaraan sesama ummat (ukhuwwah Islamiyyah).

2. Makna Iedul Fitri:

Ada berbagai makna Hari Raya Iedul Fitri yang dapat kita pahami, namun dalam kesempatan ini saya hanya akan memfokuskan pada tiga hal:

a). Iedul Fitri berarti merayakan hari kemenangan spiritual pasca-menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan, sebagai penggenapan dan pelengkapannya
b). Iedul Fitri sebagai wahana refleksi dan introspeksi diri sebagai manusia dalam konteks pribadi vis-a-vis Allah swt; dan
c). Iedul Fitri dikaitkan dengan konteks dimana kita berada dan mengada, baik sebagai anggota komunitas yang paling mikro, maupun sebagai bagian dari komunitas yg makro
3. Merayakan Kemenangan Spiritual

Iedul Fitri adalah sebuah representasi kemenangan spiritual yang kita rayakan sebagai rasa syukur kepada Allah, sang Maha Pencipta. Hal ini merupakan pengejawantahan ayat Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 185, yang artinya:

“Dan hendaklah engkau sempurnakan hitungan (puasamu), dan kemudian bertakbirlah kepada Allah atas segala petunjuk yang diberikanNYa kepadamu, agar kamu sekalian dapat mensyukurinya.” (2: 185)

Seluruh ajaran agama Islam memiliki dua dimensi spiritualitas yang menyatu atau “loro-loroning atunggal” yaitu dimensi individual dan dimensi sosial. Kedua dimensi tersebut menjadi pembeda antara manusia dengan mahluk lain, termasuk Malaikat dan hewan. Karena itu ibadah atau ritual-ritual di dalam ajaran Islam memiliki makna spiritualitas pribadi dan sosial. Termasuk dalam hal ini kesalehan (piety) sebagai tuntutan keber-agamaan (religiosity): kesalehan pribadi (individual piety) dan kesalehan sosial (social piety).

Dengan demikian rasa syukur yang menjadi tujuan dalam penyempurnaan ibadah juga sudah seharusnya melingkupi dua dimensi individu dan sosial tsb. Ini berarti bahwa kesuksesan dan kemenangan yang kita raih dalam melaksanakan ajaran agama baru memiliki makna yang utuh manakala telah bisa terwujud dalam dua dimensi tsb. Menjadi orang yang salih, tidak cukup hanya pada tataran individual belaka, tetapi harus juga diperluas menjadi kesalehan sosial. Kemenangan individual kita juga harus sumrambah menjadi kemenangan bersama.

Banyak ajaran Allah dan RasulNya terkait dengan pentingnya pemenuhan kedua dimensi ini. Antara lain misalnya dalam Surat Al-Ma’un (107: 1-7):

“Tahukah kamu siapakah yang disebut mendustakan agama? Yaitu mereka yang suka menghardik anak-anak yatim; dan mereka enggan (pelit) dalam memberi makan orang-orang miskin. Dan celakalah (bahkan) orang-orang yang melakukan shalat, manakala mereka sering abai; mereka yang shalatnya hanya sekadar pamer; dan enggan untuk memberikan bantuan (sedekah; zakat).”

Merayakan Iedul Fitri dengan tradisi Halal bi Halal, tak lain adalah melengkapi dua dimensi dari ibadah: sebagai ekspressi keberhasilan (kemenangan) pribadi dalam menjalankan perintah Allah swt berupa ibadah puasa, dan sekaligus memperkuat jalinan relasi antar-manusia; solidaritas antar-sesama, dan merasakan kegembiraan serta kebahagiaan bersama.

4. Wahana Refleksi & Introspeksi Sebagai Ciptaan Allah

Pada Hari Raya Iedul Fitri, sebagaimana arti harfiyahnya, kita sebagai mahluq ciptaan Allah swt juga diberi kesempatan untuk kembali kepada "fitrah" atau asal usul yang asli atau "sangkan paraning dumadi." Selama beribadah puasa kita diberikan ruang yang cukup bagi proses perenungan (refleksi) dan mawas (introspeksi) diri. Setelah selesai berpuasa Ramadhan (yang berarti membakar), maka kita diharapkan menjadi manusia ‘baru’ yang bersih secara spiritual. Ibarat mitos burung Phoenix yang dibakar untuk bisa lahir kembali menjadi burung Phoenix yang segar dan indah.

Menurut sebuah Hadits:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan dilandasi keimanan dan berharap dengan tulus agar mendapat pahala dari Allh swt, maka ia akan diampuni seluruh dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Agar kita dibersihkan dari dosa-dosa maka puasa kita harus benar-benar berlandaskan kepada keimanan dan harapan HANYA kepadaNya, bukan kepada lainnya. Ibadah puasa yang bermakna adalah apabila kita tidak hanya beribadah pada tataran fisik belaka, tetapi juga pada tataran kejiwaan (psyche): merenungkan hakekat jati diri kita, merenungkan “sangkan paraning dumadi”, merenungkan apa sejatinya tujuan kita diciptakan oleh Allah swt.

Itulah sebabnya selama bulan Ramadhan, Allah swt memberi bonus khusus kepada para shoimiin & shoimaat, yang berupa: karunia atau rahmat; ampunan atau maghfirah, dan pembebasan dari siksa neraka ('itqun minan nar).

“Bulan Ramadhan itu diawali dengan rahmat, ditengah-2nya pengampunan, dan diakhirnya pembebasan dari siksa neraka.” (Jami' As-Shaghir)

Ketiga "bonus" spritual tersebut akan kita dapatkan manakala ibadah puasa kita mampu menjadikan diri kita semakin meningkatkan pemahaman tentang hakekat diri sebagai mahluk, semakin mampu menempatkan posisi sebagai ciptaan yang tidak arogan dan sok kuasa, dan menjadi pribadi yang seimbang.

Demikianlah, Allah swt sebenarnya memberi kesempatan dalam setiap tahun dalam kehidupan kita untuk bebersih dan mensucikan diri, serta kesempatan merenung secara mendalam tentang jatidiri kita vis-à-vis Sang Maha Pencipta.

Salah satu renungan yang bisa kita lakukan adalah seperti yang ditulis Abu Nawwas, seorang Sufi terkemuka, dalam sebuah syairnya yang sangat populer di kalangan pondok pesantren:

“Ilaahi lastu lil Firdausi ahla
Wala aqwaa ‘alannaaril jahimi

Fahabli taubatan waghfir dzunubi
Fainnaka ghafirudz dzanbil a’adzimi

Dzunuubi mitslu a'datirrimaali,
Fa habli taubatan ya dzal jalaali

Wa ‘umrii naaqisun fi kulli yaumin
Wa dzanbi zaaidun kaifahtimaali.”

“Tuhanku, sesungguhnya hambaMu tak pantas untuk masuk ke dalam Surga Firdaus
Namun sebaliknya, juga tak akan tahan dalam siksa di neraka Jahim

Maka terimalah taubat hambaMu dan ampuni semua dosanya
Karena hanya Engkaulah dzat yang Maha Pemaaf semua dosa-dosa besar

Dosa-dosa hambaMu tiap hari bertambah seperti bilangan pasir laut
Maka ampunilah wahai Dzat Yang Maha Agung

Umur hambaMu ini setiap hari makin berkurang, sementara dosa-dosanya justru bertambah
Maka bagaimana hambaMu ini akan mampu menanggungnya?”

Sementara itu, Sufi Agung Ibnu Atho’illah as Sakandari dalam Kitab Al-Hikam mengatakan:

"Sebaik-baik yang kau minta kepada Allah swt adalah apa yang Dia tuntut darimu."

Makna dari kata-kata hikmah kedua Sufi tersebut adalah keyakinan terhadap sebuah prinsip dasar relasi antara manusia dengan Tuhan: bhw manusia harus menyesuaikan dirinya dengan kehendak sang Penciptanya melalui ikhtiar dan doa. Manusia terlebih dahulu harus menjalankan apa yang diamanatkan oleh Allah sebelum ia menuntut dan meminta agar Tuhan mengabulkan keinginannya. Keselarasan antara kerja dan kepasrahan kepada Tuhan harus diupayakan, sehingga tidak ada rasa seakan-akan ditinggalkan atau diabaikan olehNya dalam kehidupan ini.

5. Manusia Sebagai Bagian dari Komunitas

Allah berfirman dalam Surat Al-Hujurat (49) bahwa sudah merupakan kehendakNya (sunnatullah) apabila manusia itu merupakan mahluk yang pluralistik, mulai dari aspek jender sampai pada aspek yang paling besar yakni pengelompokan. Fakta ini tidak dapat diingkari dan diabaikan, apalagi dipaksakan untuk dihilangkan oleh manusia. Oleh sebab itu manusia harus menerima fakta sosiologis ini dan mencari hikmah darinya, bukan malah berusaha menafikan dan saling mencelakakan atau menindas.

Salah satu tujuan dari pluralitas manusia adalah agar terjadi interaksi dan komunikasi di antara mereka dalam rangka membangun kebersamaan dalam kemanusiaan. Mengenai siapa yang paling baik di mata Allah swt, maka standarnya adalah siapa yang paling taqwa kepadaNya. Taqwa di dalam konteks ini adalah mengikuti kehendakNya secara konsisten, yang dibuktikan di dalam relasi antara manusia. Salah satu standar yang dapat digunakan adalah sejauhmana manfaat seorang manusia dan kelompok manusia dalam pergaulan dengan sesama.

Rasulullah saw bahkan bersabda:

“Khairunnaas anf’uhum linnaasi.” Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Itulah landasan etos bagi sebuah kehidupan yang baik dan diridloi oleh Allah swt serta dapat membawa kemajuan, kesejahteraan, dan kemanfaatan di dunia dan di akhirat nanti. Dengan landasan etos seperti itu, maka sangat jelas bahwa tindakan-tindakan yang cenderung berpotensi membawa kerusakan (mafsadah) di muka bumi dianggap sebagai kemungkaran kendati dibungkus dengan ideologi yang mengklaim sebagai turunan dari agama, atau melalui upaya-upaya propaganda yang sangat gencar dan memikat serta dianut oleh banyak orang.

Karena itu dalam kehidupan kita sebagai bangsa yang ditakdirkan merupakan bangsa bhineka ini, perlu selalu diperhatikan berbagai macam sumber perpecahan yang dapat mengancam keutuhan kita sebagai bangsa yang merdeka, bersatu dan memiliki tujuan luhur sebagaimana diamanatkan di dalam Konstitusi UUD 1945 dan dasar Negara Pancasila. Kedua landasan itulah yang telah disepakati bersama oleh para pendiri negara dan bangsa dan tidak boleh diganggu gugat lagi.

Dewasa ini, khususnya pada era reformasi ini kita sedang menghadapi berbagai tantangan dan ancaman bagi keutuhan bangsa dan kedaulatan negara, yang bersumber dari ideologi-ideologi dan paham serta gerakan yang bertentangan dengan landasan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita. Ideologi-2 dan gerakan tersebut memakai sumber pemahaman ajaran agama, khususnya Islam, yang bermaksud meniadakan dan menggantikan kesepakatan nasional dan menjadi sebuah bentuk tatanan yang bernama Khilafahisme. Padahal ideologi dan gerakan ini secara legal-konstitusional, etis, maupun moral berlawanan diametral dengan kesepakatan nasional dan bahkan sunnatullah sebagai bangsa yang bhineka tsb.

Para pendiri bangsa kita, termasuk para Ulama, telah sepakat untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bukan berdasarkan agama tertentu, tetapi memberikan tempat dan melindungi agama-agama serta para pemeluknya untuk menjalankan keyakinan mereka dalam koridor Konstitusi yang ada. Jika ada pihak-pihak yang berusaha mengganti kesepakatan tsb tentu berarti penghianatan terhadap janji atau kontrak sosial yg sudah sangat kuat atau sebuah “mitsaaqan ghalidza” antara seluruh komponen bangsa Indonesia.

Istilah "Mitsaaqan Ghalidza" ini dalam pengertian yang digunakan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Ahzab (77):

“Dan (Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat.” (77:7)

Itu berarti setiap upaya merusak kesepakatan di atas adalah termasuk dalam kategori “bughat” atau pemberontakan, baik pemberontakan pada tataran ideologis maupun tataran politik praktis serta ketatanegaraan.

Karena itulah, jika kita pahami dari perspektif kontekstualitas Iedul Fitri ini, Halal bi Halal sebenarnya bisa dipergunakan untuk wahana dan cara revitalisasi dan pengokohan “mitsaaqan ghalidza” bagi anak bangsa, bukan hanya yang beragama Islam tetapi juga yang lain.

Halal bi Halal, dengan demikian, perlu dijadikan sebagai wahana saling menyadarkan betapa pentingnya memelihara soliditas sesama anak bangsa. Jika model halal bi halal ini bisa dbuat bukan hanya dalam merayakan Iedul Fitri saja. Tetapi sebagai semacam model silaturrahim yang berkala dalam komunitas-komunitas kecil, seperti BSN, yang diisi dengan diskusi, perbincangan, ceramah, simulasi-simulasi kegiatan yang terkait dengan pengokohan solidaritas demi peningkatan rasa kebangsaan, maka akan lebih mendalam maknanya.

Tentu saja, saya tidak mengatakan bhw tradisi khas Halal bi Halal yang dirayakan setiap Lebaran Idul Firi lantas ditiadakan. Tetapi lebih kepada mencari inovasi bagi upaya merajut kebersamaan dalam kondisi yang kini sedang penuh dengan tantangan dan bahkan ancaman.

6. Penutup

Akhirnya marilah kita bersama-sama mengucapkan rasa syukur kepada Allah swt dan berdoa agar mendapat Taufiq dan HidayahNya selama kita menempuh kehidupan kita baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas di mana kita berada. Wabil khusus sebagai bagian integral keluarga besar BSN yang kita cintai dan banggakan. Semoga spirit Iedul Fitri bisa kita pertahankan dalam menapaki kehidupan bersama sebagai bagian dari NKRI.

Wallahul muwaafiq ilaa aqwaamit thorieq, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS