Monday, July 31, 2017

MEMBEDAH KOMUNIKASI POLITIK "SBY-PRABOWO-JOKOWI"

Dialog tadi malam (30 Juli 2017) di CNN TV, membahas pertemuan antara Presiden RI ke 6, SBY, dengan Ketum DPP Gerindra, Prabowo Subianto (PS), yang kemudian direspon oleh Presiden Jokowi (PJ). Pertemuan Cikeas menjadi trending topic karena melibatkan dua "Giants" atau Raksasa dalam dunia perpolitikan di negeri ini. Keduanya, SBY dan PS, melontarkan beberapa statemen yang tajam dan ditujukan kepada Pemerintah PJ, sehingga mengundang respon balik yang tak kalah tajam dari pihak yang disebut terakhir itu. Host CNN TV adalah mas Budi dan peserta dialog adalah saya sendiri, Rocky Gerung (RG) dari UI, dan wartawan senior dari Kompas, Budiarto Shambazy (BS).

Dalam pandangan saya, pertemuan Cikeas ini masih terlalu dini untuk dianggap sebagai sebuah upaya membentuk koalisi politik dalam rangka Pilpres 2019. Statemen-statemen SBY dan PS masih merupakan retorika-retorika politik yang dimaksudkan untuk menciptakan pencitraan negatif tentang Pemerintah dan PJ. Secara substantif statemen-statemen tersebut masih sangat debatable karena apa yang, misalnya, disebut sebagai 'kekuasaan absolut', 'abuse of power', 'lelucon politik', 'menyakiti akal sehat', dll bisa saja dikembalikan kepada pihak-pihak yang bicara di Cikeas dan parpol-2 pendukungnya.

RG dan BS menyoroti respon PJ yang menurut mereka terlalu awal dan seharusnya tidak perlu. Menurut mereka berdua, sehausya PJ tidak perlu merespon sendiri, cukup jika direspon para jubir atau lembaga-lembaga spt KSP, Sekkab, Sesneg, dsb. Saya juga sepakat bhw komunikasi publik Istana kurang bagus, sehingga ada kesan tidak "terkoordinasi" dan tidak efektif. Menurut RG, apa yang diucapkan Presiden tidak mungkin lagi "dikoreksi" oleh bawahannya; sehingga malah menyulitkan posisi sang Presiden. BS berpendapat PJ semestinya tidak usah merespon sendiri kritik-kritik dari pertemuan Cikeas tsb, dan lebih baik jika beliau menyerahkannya kepada aparat di bawahnya.

Apakah pertemuan Cikeas akan menghasilkan suatu kerjasama politik yang lebih nyata dan efektif? Kita lihat saja perkembangannya. Hemat saya, jika Istana tetap menyikapi dengan cara seperti ini, maka bisa jadi kerjasama politik itu akan makin menguat. Tetapi jika Istana tidak terlalu reaktif dan tetap proporsional dalam merespon, bisa jadi manuver tsb akan berubah. Perlu diperhatikan juga bahwa pihak SBY dan PS serta parpol-2 pendukung mereka kemungkinan sudah mempunyai capres dan cawapres sendiri-sendiri. Jika demikian halnya, faktor tersebut juga akan menentukan apakah kerjasama politik tersebut akan terbangun atau layu sebelum berkembang.

Simak rekaman video dan silakan dikomentari. Trims (MASH)
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS