Sunday, August 6, 2017

PATUNG KWAN SING TEE KOEN DI TUBAN

 
Pagi tadi (6/8/17) sebelum berangkat kembali dari kota Tuban yg disebut dengan Bumi Wali itu, saya sempat menyambangi Kelenteng Kwan Sing Bio, yang kini sedang ngetren gegara bangunan patung raksasa, Khong Co Kwan Sing Tee Koen (KSTK).

Saya rada terlambat sampai dilokasi sehingga tak sempat utk mengambil gambar patung scr utuh, karena pekerja sudah menutup sebagian dari patung tsb, sehingga hanya sedikit bagian bawah saja yg sempat dipotret. Para Satpam yg menjaga di depan pintu masuk mengatakan, utk sementara tdk boleh dikunjungi dari jarak dekat karena keputusan pihak manajemen demikian.

Ini mungkin karena ada kekhawatiran terkait keamanan setelah patung KSTK yg direamikan oleh Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan (Zulhas) itu menciptakan kontroversi. Media memberitakan bhw berbagai komponen masyarakat akan melakukan aksi demo memrotes keberadaan patung tsb. Alasannya macam2, mulai soal izin sampai soal ekspressi budaya asing dan nasionalisme.

Pemda Tuban pun jadi ikut heboh dibuatnya, dan buru2 berupaya menenangkan publik di wilayah tsb. Menurut Bupati dan Wabup ( yg notabene dari PKB dan tokoh2 NU Tuban) masyarakat Tuban sejatinya tidak mempermasalahkan kehadiran patung yg dibangun di lingkungan konpleks kelenteng tsb. Diakui memang ada masalah perizinan yg kurang lengkap dan hal itu akan diselesaikan dengan pihak pengurus kelenteng KSB. Saya sempat mendengar sendiri statemen Pak Bupati, KH. Fathul Huda, bhw Pemda bersama aparat Daerah akan mencari solusi yang tepat dan, karenanya, menghimbau masyarakat di Tuban tetap menjaga ketenangan.

Bagi saya sendiri kehebohan yg muncul terkait patung ini adalah salah satu indikator dari makin tergerusnya rasa kebersamaan di antara warga bangsa kita. Primordialisme dan sektarianisme serta SARA kian mudah menjadi rujukan dalam menyikapi realitas sosial yg semakin kompleks seiring dengan dinamika masyarakat. Politisasi isu2 SARA makin menambah mudahnya muncul rasa curiga, kebencian, dan ketakutan. Dampakanya yg segera terlihat adalah kian mudahnya sebagian kelompok masyarakat ituk mengambil kesimpulan tergesa2 terkait dengan perilaku "liyan".

Ekspressi budaya dan tradisi di Indonesia yang memang sangat majemuk kini menjadi lahan untuk merekayasa isu2 yang bisa menumbuhkan dan menjadi sumber ketidakharmonisan sosial. Jika para penguasa mudah terpengaruh oleh emosi2 sektarian, dan kemudian mengambil kebijakan populer tetapi tidak substantif bagi kehidupan masyarakat yg majemuk, maka bangsa dan negara ini akan menghadapi problem serius. Karena masyarakat majemuk tidak mungkin harmonis jika ada visi otoriter yg ingin memaksakan kehendak.

Saya berharap ketika saya pulkam lagi dlm waktu dekat, akan bisa mengambil potret patung tsb dengan utuh, terbuka, dan rasa gembira. Tidak seperti pagi ini, saya rada was was ketika beberapa aparat Polisi dengan senpi laras panjang berjaga2 dibantu oleh prajurut TNI. Kendati mereka sedang menjalankan tugas menjaga keamanan di kompleks Kelenteng tsb, tetap saja saya merasa merinding.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS