Sunday, August 6, 2017

SEMINAR NASIONAL: MEMBENDUNG RADIKALISME MELALUI KEKUATAN MASYARAKAT AKAR RUMPUT

Alhamdulillah, seminar nasional bertajuk  "Membendung Radikalisme Melalui Kekuatan Masyarakat Akar Rumput" telah terselenggara kemarin, Sabtu, 5/8/17 bertempat di Ponpes Salafiyah Kholidiyah Plumpang Tuban. Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan dalam rangka Haul ke 34, Almaghfurlah KH. Abdul Fatah Al-Manshur (1917-1983) yang merupakan pendiri  pendiri ponpes Salafiyah Kholidiyah 

Para pembicara:

A. Keynote speakers:

1. Dr. Ir. Sumas Sugiarto, Ka Badan Renbang Kementerian Ketenagakerjaan
2. Dr. Eko Sulistio, Dep III Bidang Komunikasi, Kantor Sekretaris Presiden

B. Narasumber Seminar:

1. Dr. As'ad Ali, mantan Waka BIN
2. M. Saviq Ali, Pimred NU Online
3. Abdul Kholiq, Duta SDGs, mantan Bupati Wonosobo

C. Moderator: Drs. Muchtarom.

Acara berlangsung lancar dan dihadiri lebih dari 400 (empatratus) orang dari berbagai kalangan, terutama para generasi muda di wilayah Kab Tuban, Lamongan dan Bojonegoro. Ansor, Karang Taruna, PMII, santri putra/i, NU, pejabat dari Tripika, dan masyarakat lain.

Para pembicara memaparkan pandangan2 terkait ancaman radikalisme yg bersumber dr ideologi2 politik, termasuk liberalisme, komunisme, dan fundamentalisme agama. Khusus mengenai ideologi transnasionalisme yg saat ini mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya ideologi Khilafahisme, para pembicara menjelaskan dr berbagai perspektif; sejarah, sosiologi, psikologi, dan ekonomi.

Pondok pesantren sebagai komponen penting dari masyarakat sipil Indonesia (MSI) dinilai potensial baik sebagai subyek dan agen perubahan dan benteng menghadapi radikalisme, tetapi bisa juga obyek dan sasaran radikalisme karena berbagai faktor. Salah satu potensi positifnya adalah sumber tradisi keilmuan dan kedekatannya dg masyarakat sejak berabad2 dlm sejarah.

Pd saat yg sama ponpes juga berada dlm pusaran perubahan yg cepat bukan saja pd tataran lokal dan nasional terapi juga global. Sementara kapasitas komunitas pesantren sangat bervariasi, sehingga rentan menjadi obyek bagi kepentingan2 politik, ekonomi, dan sosial budaya dari luar. Dlm perkembangan mutakhir, khusunya globalisasi yg diwarnai oleh teknologi infornasi saat ini, ponpes masih berada pada posisi penerima dan sasaran, belum menjadi peubah apalagi penentu dinamika.

Itu sebabnya jika ponpes akan dilibatkan dlm upaya membendung pengaruh radikalisme yg disebarkan oleh kekuatan transnasional spt HTI, Al Qaeda, ISIS, dll, ia perlu didukung oleh negara di samping melakukan perubahan internal dalam dirinya sendiri. Penguatan ekonomi dan pembentukan jejaring infornasi serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan deradikalisasi adalah beberapa hal yg penting.

Pemerintah Indonesia tidak hanya beretorika saja dalam mendukung komunitas ponpes. Berbagai program penguatan ekonomi kerakyatan perlu didesain dan diwujudkan secara tepat agar ponpes dan masyarakat sekitarnya mendapat manfaat dan bukan malah terasing dalam hiruk pikuk pembangunan.

Walaupun ponpes telah mampu mengimbangi wacana ideologis melalui kajian2 fiqih ketatanegaraan (fiqh siyasah), tetapi secara sosiologis tetap masih ringkih sebagi kekuatan penggerak di masyarakat yg sedang berubah cepat. Mereka seringkali harus menghadapi dan menjawab tuntutan perubahan dengan kekuatan SDM dengan skills yang rendah kualitasnya bagi kiprah ekonomi modern.

Kesimpulannya, potensi ponpes sebagaikekuatan akar rumput harus digerakkan dan diperkuat, terutama dengan dukungan negara dan komponen masyarakat sipil yg lebih dulu telah bergerak dan berdaya. Ideologi radikal perlu dihadapi bukan hanya pada tataran wacana dan kontra ideologi, tetapi juga melalui penguatan basis ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta jejaring yang luas.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS