Sunday, December 23, 2018

RUNTUHNYA SEBUAH CITRA: TRUMP DAN PARA PEMUJANYA


Tersebutlah seorang kolumnis dan penulis buku-2 laris dari kalangan konservatif di AS bernama ANN COULTER (AC). Perempuan yang satu ini, sejak Donald Trump (DT) maju sebagai capres pada 2016, dikenal sebagai salah seorang pemuja utama konglomerat asal New York tsb. Saking hebatnya Trump di mata AC sampai2 salah satu bukunya diberi judul "In Trump We Trust" (Pada Trump Kita Mempercayai), yang mengingatkan orang akan bunyi sesanti pada uang dollar AS (greenback) "In God We Trust."

Yup! Bagi AC dan para pemujanya sang konglomerat, yang kemudian terpilih menjadi Presiden AS ke 45 itu, dianggap punya kapasitas layaknya TUHAN yang akan mampu menyelamatkan AS dari keterpurukan dan kenestapaan (akibat presiden2 dari partai Demokrat seperti Obama dan Clinton!)

Tapi seperti biasanya dengan kultus individu yang lebay, pemujaan terhadap DT oleh AC tak bertahan lama. Dalam sebuah artikelnya (lihat tautan di bawah), AC menghujat DT dengan mengatakan bahwa pihak yang disebut terakhir itu tak lebih daripada "seorang Presiden tak bernyali di sebuah negara tanpa tembok pembatas" (A gutless President in Wall-less Country)!

AC naik pitam karena sang pujaan akhirnya "GATOT" alias gagal total untuk mewujudkan janji kampanyenya yang paling heboh: Akan membangun tembok tinggi diperbatasan AS-Mexico agar bisa menyetop para migran gelap masuk ke negeri paman Sam tsb. Bukan cuma membangun tembok saja, tetapi DT juga berkali2 menyerukan bhw BIAYA pembangunannya akan DITANGGUNG oleh Mexico!

Setelah dua tahun betkuasa, boro-boro pembangunan tembok pembatas itu terwujud dan, apalagi, dibiayai negara jirannya. Bukan saja belum ada pergerakan berarti dalam membangun, malah Kongres AS, termasuk di dalamnya para anggota dari Partai Republik sendiri, menolak memberi anggaran! Walhasil janji dan sesumbar DT kandas dan "gatot". Yang lebih nahas, mulai Sabtu dinihari sebagian kantor Federal AS terpaksa ditutup sementara (shutdown) gegara anggaran belum cair dan DT menolak menandatangani usulan pencairan.

Tulisan AC yang bernada geram total pun muncul di antara hingar bingar tsb. Reaksi Trump terhadap AC? Beliau langsung memblokir twitter AC yang selama ini menjadi salah satu yang diikutinya. Sayangnya, bukan saja AC tenang2 saja menanggapi reaksi DT tsb, tetapi justru media dan politisi yang selama ini memuja DT kini pun mulai ikut-ikutan mengambil jarak.

Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa Menhan AS, James "Mad Dog" Mattis, hengkang dari jabatannya sebagai protes keras terhadap keputusan DT yang mau menarik seluruh pasukan AS dari Suriah dan sebagian dari Afghanistan. Blunder besar bagi Trump karena beliau tidak konsultasi terlebih dahulu dengan Kemenhan dan para politisi di Capitol Hill. Alih-alih, DT justru mengklaim bahwa dirinya "lebih tahu soal ISIS ketimbang para jenderal! Bagi kalangan Republikan pada umumnya, kebijakan menarik pasukan AS di luar negeri cenderung akan dikecam karena akan merugikan industri persenjataan dan konglomerat mintak dan gas!

Respon keras dan hujatan dari para pemuja biasanya merupakan tanda makin dekatnya kejatuhan seorang DIKTATOR. Apakah sikap AC ini akan menjadi tren dan menandai proses kejatuhan Presiden Trump? Sampai hari ini belum ada tanda kuat bahwa pemakzulan (impeachment) terhadap DT di tengah jalan akan bisa dilaksanakan. Secara politik, Senat masih dikuasai Partai Republik kendati mulai 2019 nanti DPR AS (House of Representatives) akan dikuasai Partai Demokrat.

Tetapi indikasi bahwa sang Raja ternyata telanjang tanpa pakaian, makin lama makin "trawoco" di mata rakyat. Dan, berbeda dengan dongeng, dalam konteks politik AS yang menunjukkan kenyataan tsb bukanlah anak-anak ingusan, tetapi penulis buku laris yang juga sang pemuja Baginda sendiri!

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS