Tuesday, January 29, 2019

SELAMAT JALAN BANG RAHMAN TOLLENG

Saya termasuk orang yang sangat mengagumi almarhum Bang Rahman Tolleng atau yang akrab dipanggil dg sebutan "boss" oleh teman dekat beliau. Walaupn pergaulan saya bisa dibilang terbatas, baik dari segi waktu maupun volumenya, tetapi tetap saja almarhum saya masukkan dalam kategori sosok yang saya kagumi. Sampai kapanpun.

Saya kenal Bang Tolleng saat bersama almaghfurlah Gus Dur sering diajak ikut dalam diskusi di Forum Demokrasi (Fordem), di bilangan Jl. Gondangdia Lama. Bersama GD, Bung Marsillam Simanjuntak, dan Mas Bondan Gunawan, Bang Tolleng adalah tokoh-tokoh yang membuat saya makin tertarik untuk menekuni gerakan demokratisasi dan peran masyarakat sipil (civil society) di Indonesia pada awal 1990an, saat saya masih studi di AS. Kalau Bung Sillam sangat kuat dalam pemikiran politik modern, seperti almaghfurlah GD, Bang Tolleng adalah sosok yang matang dalam gerakan seperti Mas Bondan.

Saya paling tertarik dengan skeptisisme dan kecurigaan Bang Tolleng terhadap kekuasaan, militerisme, dan otoriterisme, bukan saja yang ada dalam rezim Orba tetapi juga yang beliau deteksi ada di kalangan masyarakat sipil. Saya juga sangat kagum dengan komitmen almarhum terhadap kaum cendekiawan, sebagai komponen masyarakat yang mencerahkan dan mampu mengambil jarak terhadap kekuasaan. Dalam konteks dunia, sikap Bang Tolleng ini ada miripnya denga alm, Edward Said, cendekiawan sekaligus pejuang kemerdekaan bangsa Palestina dalam pengasingan, di AS. Mungkin karena itu Bang Tolleng, seperti juga Said, terkesan tak terlalu ambil pusing ketika berada di luar kekuasaan atau harus "kalah" dalam ontran-ontran politik.

Dalam diskusi-diskusi di Fordem, saya selalu  mencermati kritik dan, sesekali, sinisisme almarhum terhadap mereka yang dianggap "tokoh-tokoh" politisi dan aktivis. Terus terang, pertama kali saya dengar plesetan singkatan PIJAR, salah satu kelompok anti Orba "garis keras", dengan kepanjangan "BerPIkir JARang", misalnya, adalah dari beliau. Padahal Bang Tolleng, dan saya kira semua tokoh Fordem, cenderung apresiatif terhadap aktivisme kelompok tsb. Ledekan dari sang pegiat anti Orde Lama tsb bukan bermaksud meremehkan PIJAR, tetapi pendorong agar para aktivisnya tidak melupakan pemahaman filosofis dan teoretis. Bukan asal berdemo.

Seperti juga Bung Sillam dan almaghfurlah GD, Bang Tolleng adalah seorang pembaca buku yang "rakus" dan kritis. Namun beda dengan yang saya sebut kedua pertama itu, almarhum lebih menampakkan diri sebagai aktivis yang lebih mengedepankan realitas lapangan. Karena itu perdebatan dalam diskusi Fordem kadang bisa panas gegara perbedaan interpretasi tentang realitas lapangan antara para pendekar itu. Alm GD biasanya lalu mendinginkan suasana dengan guyonan. Dan Bang Tolleng, walaupun tampilannya serius, adalah yang tertawanya paling keras!

Setelah almaghfurlah GD menjabat sebagai RI-1, saya sangat jarang bertemu Bang Tolleng, apalagi menikmati diskusi dengan beliau. Bagi mereka yang masih terus bisa berdiskusi dan menyerap ilmu serta pengalaman beliau tentu akan sangat beruntung. Dan bagi saya kepergian Bang Tolleng, dalam usia 81 th itu, adalah kehilangan yang luar biasa bagi bangsa, apalagi dalam kondisi saat ini yang sedang mengalami kemarau dalam pemikiran.

Selamat jalan Bang Tolleng, semoga husnul khotimah. Jika nanti bertemu almaghfurlah GD, sampaikan salam saya, dan lanjutkan diskusinya serta tertawalah seperti dulu ketika menikmati guyon beliau. Alfatihah.....


Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS