Sunday, April 28, 2019

AKSI TEROR TERHADAP JEMAAH SINAGOG DI AS


AKSI TEROR TERHADAP JEMAAH SINAGOG DI AS. Hari ini, (Minggu, 28/04/2019) waktu Indonesia (Sabtu, 27/04/2019 waktu setempat) dikabarkan telah terjadi aksi teror terhadap jemaah yang sedang beribadah di di Sinagog Chabad di kota Poway, dekat kota San Diego, California, AS. Pelaku aksi teror tsb, John Earnest (JE, 19th), menembaki para jemaah dan akibatnya menewaskan satu jemaah perempuan dan melukai 3 orang lainnya.

Ini adalah serangan teror kedua selama setahun terakhir thd Sinagog, (tempat ibadah ummat Yahudi), di AS. Sebelumnya, pada 28 Oktober 2018, terjadi aksi teror dengan modus penembakan terhadap jemaah Sinagog L'Simcha di kota Squirrel Hill, dekat Pittsburgh, Pennsylvania, yang mengakibatkan tewasnya 11 orang jemaah.

Dalam aksi di Poway ini, JE mengklaim mengikuti jejak Brenton Tarrant, teroris yang menulis manifesto dan merekam melalui facebook aksi penembakan yang dilakukannya di dua Masjid di kota Christchurch, Selandia Baru. Korban aksi teror tunggal itu adalah 50 jemaah Muslim tewas. JE juga mengaku meniru atau terinspirasi oleh aksi teror yang terjadi di Pittsburgh tsb. Kedua pelaku aksi tsb mengatasnamakan diri sebagai para pembela perjuangan kelompok Supremasi Kulit Putih (White Supremacist).

Dua kasus teror di Selandia Baru dan di AS ini menjadi bukti bahwa radikalisme dan terorisme tidak hanya monopoli kelompok2 radikal berkedok ideologi agama, tetapi juga ideologi sekuler seperti rasisme, fasisme, nasionalisme ekstrim, dll. Pada dasarnya semua ideologi teror itu memiliki ciri-ciri yang mirip: pengunggulan identitas primordial, anti-asing (xenophobia), eksklusif, intoleran, merasa paling benar, dan anti demokrasi.

Maraknya aksi teros kelompok rasis Kulit Putih dan Nasionalis Ekstrim di Barat terjadi bersamaan dengan muncul dan berkembangnya kelompok ultra kanan yang memenangkan kontestasi politik. Kemenangan Trump di AS, Bolsonaro di Brazil, Guaido di Venezuela, dan juga kemenangan partai-partai ultra nasionalis di Eropa merupakan contoh-contohnya.

Akankah radikalisme dan teror kelompok berideologi sekuler tsb bertabrakan atau malah berkoalisi dengan kelompok berideologi agama utk menghancurkan demokrasi di seluruh dunia? Secara teoretis koalisi itu tampak mustahil, sedangkan tabrakan antara keduanya lebih mungkin. Namun kalaupun kedua kekuatan destruktif itu bekerja sendiri-sendiri tetapi berjaya dalam aksi-aksi mereka secara terpisah, tetap saja implikasinya terhadap kemanusiaan dan peradaban dunia sama: sebuah kehancuran massif dan total.

NKRI saat ini sedang menghadapi ancaman radikalisme dari kelompok ideologis yang mengatas namakan bela agama. Jangan sampai aksi- aksi teror seperti di Selandia Baru dan AS menjadi alasan dan motif pembenaran mereka melakukan penetrasi dan infiltrasi ideologis di dalam masyarakat maupun penyelenggara negara kita. Jangan pula aksi-aksi teror kelompok Supremasi Kulit putih dijadikan alasan balas dendam sehingga mengabsahkan tindakan sama.

Kita berduka dan berdoa utk semua korban terorisme di manapun mereka dan apapun latarbelakang agama mereka. Kita juga mengutuk aksi biadab tsb baik yang dilakukan oleh pihak yang mengatasnamakan ideologi sekuler maupun ideologi agama. Karena sesungguhnya aksi-2 teror tsb adalah musuh bersama, yaitu musuh kemanusiaan dan peradaban.

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS