Monday, September 27, 2010

"IT'S A DEJA VU ALL OVER AGAIN," PAK TIFATUL !

Oleh Muhammad AS Hikam

President University 

 

 

 

  It's a deja vu all over again!  Menteri Kominfo, Tifatul Sembiring (TF) tampaknya mulai berani lagi unjuk muka dan melempar wacana setelah rada tenggelam beberapa waktu terakhir. Kali ini dia mengomentari soal perampokan cum terorisme yang marak dalam beberapa bulan terakhir dan meresahkan publik di tanah air. Pasalnya, aksi-aksi perampokan itu telah melibatkan senjata api (senpi) dan diakukan secara sangat profesional, terorganisasi rapi, dan sasarannya adalah Bank dan ATM. Melalui operasi yang meibatkan Densus 88 Polri, beberapa penggerebekan dan penangkapan terhadap sebagian pelaku berhasil dilakukan. Dan Polri sangat yakin memang ada kaitan antara beberapa aksi perampokan tersebut dengan jaringan terorisme seperti kelompok Al Qaeda Aceh.

Sebagai salah satu aparat Pemerintah, selayaknya Menteri yang membidangi komunikasi dan informasi memberikan statemen yang menjernihkan dan kalau bisa menenteramkan publik, khususnya terkait dengan isu gangguan keamanan dan terorisme. Tapi sayang komentar TF soal ini, sama dengan sebelumnya ketika bicara tentang konten media beberapa waktu lalu, hemat saya malah berpotensi memancing kontroversi. Dia seolah menyangsikan perkaitan antara aksi perampokan dan penangkapan para anggota kelompok dengan jejaring teroris, dengan mengatakan bahwa "kalau semua disebut terorisme bisa repot". Karenanya, TS mengatakan bahwa "perlu penyelidikan terlebih dahulu sebelum menyatakan hal tersebut adalah terorisme."


Saya kira TS harus lebih arif ketika memberikan komentarnya dan bukannya malah cenderng memntahkan sebuah posisi yang sudah menjadi pilihan Pemerintah, khususnya aparat penegak hukum yang berwenang. Bagaimanapun TS adalah bagian integral dari Pemerintah dan dalam posisi petinggi dalam urusan informasi, termasuk informasi publik.  Bukankah sudah sangat terang benderang bahwa apa yang terjadi di Medan adalah perampokan yang terkait dengan aksi terorisme? Bukankah pihak Polri, mulai dari jajaran terbawah sampai top pimpinannya, telah memberikan klarifikasi soal itu?. Kalaupun penangkapan para penggarong ATM yang terakhir belum diumumkan motivasinya, saya tidak melihat ada masalah kalau hal itu juga dikaitkan dengan aksi terorisme. Sebab modus operandi kelompok teroris ini sudah diketahui publik yaitu mencari sasaran yang menjadi tempat uang karena mereka mengalami kekeringan sumber pembiayaan. TS tidak perlu membuat statemen yang terdengar "meragukan" atau second guessing Polri yang implikasinya seperti tidak bisa membedakan mana perampokan yang terkait dengan aksi teror dan mana yang tidak. Sama dengan beberapa komentar TS dalam beberap kasusu strategis, yang satu ini juga berpotensi menciptakan kontroversi mengenai startegi pemberantasan terorisme yang telah dipilih dan dilaksanakan Pemerintah, cq Polri.

Hemat saya, TF juga tidak usah kebakaran jenggot kalau kemudian aksi teror dikaitkan dengan Islam, karena faktanya para teroris yang selama ini menciptakan keonaran dan kehancuran di negeri kita dan memakan korban manusia semuanya mengklaim sebagai pejuang Islam. Soal benar dan salah, biarlah hukum di negara yang bicara. Islam sebagai agama terlalu besar dan suci untuk dicemari oleh sekelompok gerakan radikal yang memakai cara kekerasan untuk mencapai tujuan. Partai Islam seperti PKS justru punya tanggungjawab lebih besar karena para teroris itu secara langsung atau tidak telah menciptakan kesan negatif terhadap Islam dan gerakan serta organisasi (politik, sosial, budaya) Islam. Dan hal yang paling masuk akal untuk dilakukan PKS adalah dengan cara memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada aparat penegak hukum termasuk Polri dalam pemberantasan tindak terorisme. Minimum dengan tidak membuat pernyataan yang kontra produktif seperti itu!

Sebagai salah satu partai politik terkemuka di negeri ini PKS tidak usah malah terkesan apologetik alias membela diri kalau memang tidak ada yang menuduh bahwa ia terlibat dalam aksi terorisme dan/atau memiliki gagasan atau ideologi yang mirip dengan mereka. Justru PKS harus menjadi pihak yang berada di barisan paling depan dalam upaya menampilkan sisi yang sering (sengaja atau tidak) dilupakan orang bahwa Islam mengajarkan kedamaian dan anti kekerasan. Sebagai sebuah kekuatan politik Islam yang menjanjikan dan mendapat apresiasi rakyat Indonesia, saya yakin PKS punya daya dan strategi yang baik untuk membantu memperkokoh barisan anti terorisme di masyarakat politik (political society) dan juga masyarakat sipil (civil society). Sebab PKS memiliki basis pendukung dari kalangan kelompok cendekiawan dan masyarakat kelas menengah kota dan saat ini bahkan memiliki asset pejabat di daerah maupun pusat.

Sebagai pentolan partai dan bagian dari elite politik nasional, TS tidak perlu terusik dengan munculnya wacana tentang ancaman terorisme dan fakta bahwa kriminalitas yang muncul akhir-akhir ini memang ada yang terkait dengan tindak terorisme. Mungkin yang dia perlukan adalah lebih banyak belajar dalam  membuat statemen yang lebih bermanfaat dan produktif bagi bangsa yang sedang mengalami banyak tantangan dan cobaan ini.

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS