Wednesday, September 29, 2010

SIKAP PBB TERHADAP ISRAEL DALAM KASUS MAVI MARMARA,

Oleh Muhammad AS Hikam

President University

Kapal Turki Mavi Marmara

 

Alhamdulillahi Raobbil 'Alamin. Puji Tuhan! Ucapan itu spontan saja muncul ketika melihat judul dan membaca berita PBB akan mengesahkan hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF) yang khusus dibentuk untuk kasus serangan pasukan komando AL Israel terhadap Kapal Mavi Marmara. TPF menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan pelanggaran HAM berat atas serangan terhadap kapal berbendera Turki yang membawa para relawan yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza yang mendarita akibat blokade Israel selama ini. Kita tahu bahwa  sebelumnya PBB tidak berhasil menghentikan blokade, apalagi memberikan sanksi terhadap Israel. Nasib yang sama pun bisa terjadi terhadap kesimpulan TPF PBB terbaru tentang serangan terhadap Mavi Marmara, yaitu tak akan ada tindakan apapun terhadap Israel. Tetapi, setidaknya, menyatakan Israel sebagai pelaku pelanggaran HAM berat itu punya arti penting bagi delegitimasi dan penurunan kredibilitas Pemerintah Israel di mata dunia.


Hampir dapat dipastikan bahwa AS akan memveto pengumuman tersebut jika dibawa ke Dewan Keamanan PBB (UN Security Council). Karena itu pengumuman tersebut mungkin hanya akan muncul di Sidang Umum PBB (UN General Assembly) dan implikasinya tidak akan langsung, mungkin hanya simbolis. Tetapi, bagi saya, hal itu tetap harus disyukuri karena sedikit demi sedikit, mata dunia akan terbuka bahwa Pemerintah Israel bukanlah seperti yang selama ini dipropagandakan yaitu sebagai Pemerintah yang demokratis dan menjunjung HAM. Apalagi klaim bahwa Pemerintah Israel adalah pemerintahan paling demokratis di kawasan Timur Tengah. Walaupun hampir semua bukti tentang pelanggaran berat terhadap HAM dan penindasan terhadap bangsa Palestina selama ini telah banyak yang diabaikan dan sengaja ditutup-tutupi, toh akhirnya mata manusia di dunia akan melihat kejahatan dan pelanggaran tersebut benar-benar ada dan terjadi.

Pemerintah Israel dan pembelanya bisa saja menyembunyikan fakta, membantah setiap temuan atas pelanggaran HAM yang dibuatnya, mungkin untuk setahun, sepuluh tahun, seperempat abad, bahkan seabad atau lebih. Tetapi jelas tidak akan bisa selamanya membohongi komunitas internasional dan seluruh manusia. Buktinya, sekarang ini saja di negara Yahudi itu semakin banyak sejarahwan "revisionis" yang membuka berbagai fakta sejarah yang selama ini dianggap tabu untuk ditulis. Ataupun kalau pernah ditulis, tentu dengan versi Pemerintah dan militer dengan tingkat distorsi seratus persen alias terbalik. Misalnya, pembantaian dan pengusiran warga Arab Palestina di Deir Yassin oleh gerombolan teroris Irgun yang dipimpin oleh Menahem Begin (yang kemudian menjadi PM Israel dan mendapat Hadial Nobel Perdamaian besrama Presiden Anwar Sadat dari Mesir), kini sudah ditulis terang-terangan oleh beberapa sejarawan Israel sendiri. Demikan juga bahwa pendiri negara Israel seperti Ben Gurion yang memberikan justifikasi terhadap aksi teror terhadap warga Palestina pada tahun 1947-1948 agar mereka keluar dari tempat tinggal mereka, kini telah diakui oleh sebagian sejarawan Israel sendiri. Dan sebagainya dan seterusnya.

Penguasa dan elite politik Israel yang masih didominasi oleh kelompok garis keras dan militer juga semakin mendapat tentangan dari publik dan rakyat Israel yang cinta damai dan ingin hidup berdampingan dengan Palestina merdeka. Orang-orang Yahudi di luar Israel, secara umum juga tidak sepakat dengan strategi "ghettoisasi" dan pengasingan warga Palestina yang mengingatkan mereka dengan ghettoisasi terhadap komunitas Yahudi di Eropa Timur sebelum PD II, seperti di Warsawa, dsb. Lebih jauh lagi, ummat manusia di dunia juga semakin banyak yang mengutuk cara-cara Pemerintah dan militer Israel memperlakukan warga Palestina seperti bukan manusia atau separo manusia sebagaimana dapat disaksikan di jaringan media internasional ketika terjadi pengepungan Gaza, dimana pembunuhan, penyiksaan, dan perampasan harta warga Palestina terjadi secara massif. Denikian juga pembangunan pemukiman untuk warga Yahudi yang tanpa henti di tanah Palestina, kendati menurut perjanjian telah dispakati untuk dihentikan!

Saya dan seluruh manusia yang mendambakan perdamaian dan kehidupan normal di Palestina sebagaimana layaknya manusia yang bermartabat, merdeka, dan berdaulat bagi mereka, yakin bahwa kebenaran akan muncul dan pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan, termasuk kebohongan dan penindasan. Tidak ada kekuatan sebesar apapun yang bisa menolak kebenaran itu. Dan rakyat Israel, yang juga tidak menyetujui Pemerintah dan militernya bertindak sewenang-wenang, mereka juga akan berhasil memenangkan perjuangannya menciptakan perdamaian dan hidup bersama dengan negara dan bangsa Palestina merdeka. Memang untuk sampai di sana tidak mudah dan prosesnya jauh dari cepat. Salah satu kendala utama tujuan itu adalah negara adidaya dan sebagian elitnya yang mendukung ulah Pemerintah dan militer Israel telah terbelenggu oleh rasa bersalah terhadap perbuatan mereka sendiri terhadap bangsa Yahudi dimasa lalu. Juga sebagian besar mereka masih tidak rela untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain untuk menikmati sumberdaya ekonomi dan kemakmuran negeri sendiri. Sehingga perjuangan kebebasan, perdamaian, kedaulatan, dan kesetaraan martabat bagi warga Palestina masih menghadapi rintangan-rintangan yang luar biasa berat.

 

Namun yang paling serius sebagai penghalang perjuangan terbentuknya negara Palestina adalah fakta masih terpecah-pecahny elite bangsa Palestina khususnya, dan negara-negara Arab umumnya. Lebih dari enam dasawarsa konflik antara Israel dan Palestina terus berlarut karena tiadanya keutuhan persepsi dan sikap elite mereka sendiri karena kepentingan-kepentingan dan fanatisme ideologis, nafsu kekuasaan politik, ekonomi, dan wilayah. Jika tidak demikian, saya yakin perjuangan bangsa Palestina akan berhasil lebih cepat dan upaya pecah belah dari Pemerintah dan militer Israel yang ditopang oleh sekutu-sekutunya akan tumpul.

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS