Thursday, October 14, 2010

NONTON SANDIWARA "TOO MUCH ADO ABOUT NOTHING" DI SENAYAN

Oleh Muhammad AS Hikam
President University





Seperti judul sandiwara William Shakespeare "Too Much Ado About Nothing" alias "mengejar pepesan kosong", alias "kebanyakan geledek kagak ada ujannye" alias "omdo" alias "be-es" (bull****). Itulah kesan yang saya peroleh ketika membaca omongannya Bambang Soesatyo (kok BS juga singkatannya, hehehe...) mengenai uji kelayakan dan kepatutan Komjen Timur Pradipo (TP) di Komisi III DPR-RI.

Saya dari awal suadah mengatakan bahwa pertikaian antara BS dkk vs Pimpinan DPR hanya semacam perang carangan. Walaupun kelihatannya galak-galak, semuanya mati sore-sore. Baik Ketua DPR maupun para penantangnya di Komisi III, semuanya cuma mau menarik perhatian publik seolah-olah mereka sudah bekerja keras melakukan tugas demi kepentingan publik. BS dkk malah membuat kegaduhan dengan mosi tak percaya kepada Ketua DPR, Marzuki Alie (MA) sehingga tampak serius bahwa mereka benar-benar tidak mau ada campur tangan dari luar dan taat kepada aturan main.

Kini orang jadi bertanya-tanya, kok kesannya BS malah sudah menyerah sebelum bertanding hanya karena parpol Koalisi memang ingin tanpa voting? Karena sejatinya dengan atau tanpa voting, kalau Pak TP lolos kan juga sama saja. Lagi-lagi BS mau melakukan sulapan kata-kata yang sejatinya cuma menampilkan diri kepada publik bahwa dia berani beda. Dengan istilah "ada dinamika" dalam proses tes uji kepatutan dan kelayakan, BS seakan-akan ingin bilang bahwa dia sudah berjuang di forum itu, tetapi apa boleh buat kalah suara.

Model "perjuangan" semacam ini hanya indah di media televisi saja, tetapi sebetulnya merupakan sebuah tontonan yang bodoh dan memalukan. Bodoh, karena publik sudah tahu bahwa mau bagaimanapun juga yang namanya Golkar sudah pasti akan ikut kata bossnya. Kalau toh ada seorang seperti BS, itu kan sudah diskenariokan agar seolah-olah ada suara kritis. Memalukan karena BS dkk mengira bahwa publik bisa dia bodohi dengan pertunjukan seperti itu, padahal publik sudah sangat paham dengan prilaku politik teatrikal di Senayan.

Saya mengikuti proses uji kelayakan hanya melalui radio, itupun tak penuh karena harus memberi kuliah. Ketika sore saya kembali mendengarkan radio ternyata menurut BBC tes itu mulus-mulus saja. Bahkan anggota DPR yang terhormat itu tidak ada yang mendalami masalah komitmen Polri terhadap gerakan anti korupsi. Padahal, konon, dalam presentasi setebal 24 halaman yang dibacakan selama sekitar 30 menit oleh Pak TP, tidak ada sedikitpun menyinggung soal itu. Sangat aneh bin ajaib bagi anggota Komisi III seperti BS yang suka bicara kritis tetapi ada celah menganga sebegitu besar didiamkan saja.

Walhasil, apa yang saya perkirakan tidak terlalu meleset yaitu bahwa rame-rame yang dipertontonkan oleh BS dkk cuma perang carangan, dan Pak TP tampaknya lolos dengan mulus, dan bukan tidak mungkin akan seperti calon Panglima TNI beberapa waktu lalu: aklamasi. Yang lebih penting dari semua ini adalah makin banyak saja catatan rakyat atas keterpurukan para politisi Senayan. Bahwa sejatinya apa yang mereka lakukan tak lebih hanyalah sandiwara dengan judul "Too Much Ado Anout Nothing". Tidak kurang, tidak lebih!

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS