Tuesday, October 1, 2013

"NGANGSU KAWRUH" DARI SOPIR TAKSI SURAKARTA HADININGRAT



Oleh Muhammad AS Hikam

Yang namanya pengetahuan atau kawruh dan kebijaksanaan atau kawicaksanan atau wisdom, itu bisa dicari dari mana  dan dari siapa saja. Tidak perlu harus dari Barat dan Timur, Utara dan Selatan, dari Mahaguru, Ilmuwan, Kyai, Pendeta, dll para adiluhung. Bisa saja dari para sopir taksi yang sehari-2 melayani para penumpang tanpa harus mengetahui siapa mereka dan bagaimana asal-usulnya. Bahkan dari para sopir taksi di kota Solo, yang saya ajak ngobrol beberapa hari lalu, saya mendapatkan kawruh dan kawicaksanan yang berharga dan patut direnungkan. Sebut saja nama mereka, Pak Bambang dan Pak Sri, dua sopir taksi yg mengantar saya selama di Solo. Pak Bambang dengan taksinya mengantar saya dan isteri dari bandara Adi Sumarmo sampai Hotel Ibis, tempat kami menginap. Sedangkan Pak Sri dengan taksinya mengantar kami ke berbagai tujuan mulai dari Jajar, lalu ke Klodran, makan malam ke Solo Baru, esoknya ke Laweyan, lalu ke Makam Haji, dan akhirnya kembali ke Bandara. Melalu obrolan dengan kedua sopir taksi itu saya merasa  memperoleh banyak pengetahuan tentang Pak Jokowi, tentang perkembangan Solo, dan tentang harapan rakyat terhadap para pemimpinnya.

Baik Pak Bambang maupun pak Sri adalah pengagum Pak Jokowi semenjak beliau menjadi Walikota Solo periode pertama. Hanya saja, beda dg Pak Bambang, Pak Sri mendukung Prabowo Subianto (PS) untuk Capres 2014. Bukan karena soal pengalaman Pak Jokowi masih kurang atau alasan klise "biarkan Jokowi mengurus Jakarta dulu" seperti yg dilontarkan para penolak Gub DKI tsb. Pak Sri memilih PS karena Gerindra sudah lebih pasti, tidak "gojag-gajeg" seperti PDIP karena bossnya belum tegas menjadikan Jokowi sebagai capres. ("lha dos pundi badhe milih, Pak, menawi tasih gojag-gajeg kados ngaten punika"/ bagaimana mau milh pak kalau ragu-2 terus seperti itu). Kekaguman keduanya, dan mungkin juga sebagian besar rakyat Solo, adalah disebabkan karena sosok Jokowi yang tetap dekat dengan masyarakat lapis bawah walaupun telah menjadi orang besar, penggedhe. Bagi mereka, sosok pemimpin yang tidak lupa kepada asal-usulnya, yaitu wong cilik, kini sudah sangat langka. Yang umum terjadi adalah orang menjadi lupa atau bersusah payah utk melupakan asal usulnya begitu merasa sudah sukses.

Ketika saya tanya tentang kritik thd Jokowi yang dilontarkan oleh tokoh yang juga dari Solo, Pak Amien Rais (AR), keduanya juga menjawab sama: kritik tersebut tidak akan didengar oleh rakyat Solo maupun rakyat Indonesia lainnya. Bahkan menurut pak Bambang, Pak AR justru malah merugikan dirinya sendiri kerena sebagai orang besar beliau tidak paham dengan etiket (unggah-ungguh) yang nJawani (mengikuti tradisi Jawa). ("Ngendikan mekaten punika rak njih kedahipun mboten dipun wedharaken kaliyan priyantun kados Pak Amien"/perkataan seperti itu kan mestinya tidak diucapkan oleh orang besar seperti Pak Amien). Bagi orang Jawa, dianggap tidak atau belum Jawa merupakan stigma moral yang serius, mirip seperti orang yang dianggap belum dewasa atau belum pantas. Pak Sri agak lebih 'diplomatis', mengatakan bhw orang Solo kan sudah tahu siapa beliau itu. ("Tiyang sak Solo rak njih sampun pirso lan ngertos sinten piyambakipun puniko") Jawaban yang tidak menjawab secara kongkrit itu jika dipahami dengan "rasa" orang Jawa sama saja dengan menganggap bhw pihak yang dibicarakan itu tidak perlu dianggap serius karena reputasinya kurang baik. Walhasil, kendati disampaikan oleh seorang tokoh nasional sekaliber Pak AR pun, jika kritik dianggap tidak proporsional dan tidak sesuai dengan apa yang menjadi persepsi masyarakat, maka akan sia-sia belaka. Malah seperti yang diingatkan oleg Ngarso Dalem, Sultan Hamengkubuwono X, Raja dan Gubernur DI Jogja, bisa-bisa kritik AR akan menjadi bumerang kepada dirinya! (http://www.tempo.co/read/news/2013/09/29/078517499/Sultan-Bicara-Kritik-Amin-Rais-pada-Jokowi).

Rasanya kurang lengkap jika ngobrol dengan masyarakat bawah mengenai tokoh yang sedang moncer seperti Jokowi, jika tidak menyinggung aspek spiritualitas. Sebab dalam budaya politik Jawa, menurut para ahli teori budaya politik, kekuasaan bukanlah sesuatu yang riil dan bisa dipegang atau kasat mata. Kekuasaan dalam gagasan budaya jawa adalah sesuatu yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada seseorang yang sudah memiliki kapasitas untuk menerima. Dalam istilah Jawa disebut kasinungan atau kewahyon atau mendapat wahyu. Dan wahyu yang berupa kekuasaan tsb bisa datang dan pergi kepada seseorang yg sudah memiliki, tergantung pada apakah ia memiliki kemampuan untuk memertahankan sebagai miliknya. Untuk memertahankan itu bukan saja si pemilik harus melakukan perbuatan-2 atau perjuangan yang bersifat fisik (aksi politik dan tata negara), tetapi, dan tak kalah penting, adalah juga olah spiritual. Dalam cerita wayang "Tumurune Wahyu Makutho Romo" (turunnya wahyu Makutho Romo), diceritakan bhw wahyu tsb turun dan berpindah-2 dari satu tokoh ke tokoh lain sebelum akhirnya "mantap" berada dalam genggaman Raden Arjuna, karena kekuatan spiritualnya, di samping kebajikan dirinya sebagai seorang kesatria! Karena itu bagi orang Jawa, seorang Jokowi yang memiliki asal-usul keluarga orang biasa, atau yg disebut pidak pedarakan tetapi mampu meraih kamukten (posisi mulia): Walikota, Gubernur Ibukota, dan kini sedang digadhang-gadhang banyak pihak mau menjadi capres Republik ini, tentu bukan hal yang hanya disebabkan kapasitas dan perjuangan fisik beliau belaka. Ada dimensi olah spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok Jokowi untuk sampai di sana.

Maka ketika masalah spiritualitas  ini saya utarakan kepada Pak Sri  dan  Pak Bambang, keduanya tak menunggu waktu terlalu lama untuk menyambut dengan jawaban yang positif:; bahwa memang mantan Walikota tsb dikenal memiliki konsistensi bukan saja dalam perjuangan fisik sebagai pemimpin, tetapi juga olah rokhaniah. Pak Sri, misalnya, bercerita bahwa Jokowi sering melakukan tirakat dan ziarah di makam para leluhur Solo, seperti Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegara. Entah seberapa jauh kebenaran cerita ini tetapi yang penting adalah bahwa rakyat memepercayai kemampuan pemimpin bukan hanya tergantung pada perjuangan dan kemampuan fisik, tetapi juga dukungan spiritual. Jika nanti Jokowi memang berhasil muncul sebagai capres (apalagi kalau sampai menang), maka itu adalah karena konsistensinya dalam olah spiritual. Pak Sri bahkan mengatakan bahwa Jokowi adalah orang yang mengikuti tradisi Islam yang NU, sehingga tidak asing lagi dengan tirakat atau ziarah seperti itu. Saya kaget juga dengan penjelasan yg terakhir itu, karena saya tidak pernah mengatakan bhw saya adalah nahdliyyin kepada Pak Sri. Ketika saya mengungkit hadiah kopiah alm GD yg diberikan oleh Ibu Sinta Nuriah kepada Jokowi, Pak Sri pun menjadi terdukung ceritanya!

Sayangnya, ketika pembicaraan beralih kepada pengganti Jokowi di Solo kedua sopir taksi itu tidak terlalu bersemangat, dan mengatakan jauh bedanya. Paling tidak, Walikota FX Rudyatmo, dianggap tidak memiliki visi dan kepemiminan yang setakar dengan yang digantikannya. Demikian pula pendekatan kerakyatan makin terasa tergusur dan digantikan dengan pendekatan yang lebih birokratis serta pragmatis. Pak Bambang menunjukkan makin banyanya pembangunan mall-mall dan apartemen-2 di Kota Solo sebagai hal yang tidak akan dilakukan oleh Jokowi. Dan bagi rakyat kecil, justru hilangnya banyak sektor informal sangat disayangkan karena makin susahnya sumber mata pencaharian. Memang Solo menjadi makin ramai dengan pendatang, dan sopir taksi seperti dirinya juga kebagian rejeki karena ekonomi pariwisata. Dan itu adalah sebuah karunia buat dirinya dan keluarga yang menggantungkan hidup pada matapencahariannya. Namun tetap saja ada yang disayangkan ketika makin banyak pula orang-orang yang terpaksa tergusur dan kehilangan pekerjaan. Sebuah dilemma yang mungkin terlalu njlimet untuk dijawab oleh kebanyakan rakyat kecil.

Rakyat seperti kedua sopir taksi di kota Solo ini hanyalah sebagian kecil dari sebuah kesatuan besar bernama Republik Indonesia. Secara statistik, apa yg mereka ceritakan dan aspirasi mereka mungkin tak terlalu signifikan jika dibanding dengan besaran masalah bangsa dan negara. Toh pengetahuan atau kawruh yg di peroleh dalam tempo dua hari berada di Surakarta Hadiningrat ini membawa kesan mendalam bagi diri saya. Setidaknya, orang-2 seperti Pak Bambang dan Pak Sri memiliki catatan dan pandangan serta kritik yg perlu diperhatikan oleh para elit. Mereka mampu menilai para pemimpin dengan referensi budaya yg dimiliki, termasuk dalam hal kepemimpinan dan moralitas serta etik. Dan orang-2 seperti ini tidaklah sedikit, malah mungkin jutaan atau puluhan juta jumlahnya. Suara mereka tak selalu terdengar dan kita lah yg perlu mencari dan mendengarkan. Pemimpin seperti Jokowi tampaknya menjadi idaman mereka. Bukan saja karena keberhasilan dalam bekerja tetapi jga karena sikap yang down to earth, apa adanya, sederhana, dan, tak kalah penting, konsisten dalam ucapan dan tindakan. Sebaliknya mereka juga mencatat ucapan dan perbuatan para pemimpin yang tak konsisten dan memberikan penilaian yang tak kalah tajamnya dengan para pengamat dan analis yang paling tajam sekalipun!

Solo-Jakarta,  29-30 September 2013
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS