Thursday, July 3, 2014

MENGAPA PARTAI DEMOKRAT MENDUKUNG PASANGAN PRABOWO-HATTA?

Partai Demokrat (PD) akhirnya memutuskan secara resmi mendukung pasangan Prabowo-Hatta (PH). Dengan demikian PD menjadi gerbong terakhir dalam gabungan parpol pendukung, setelah Gerindra, Golkar, PPP, PKS, PBB, dan PAN. Sebelumnya partai besutan Presiden SBY ini masih memilih netral, pasca-Pileg 2014, dan menolak untuk membangun koalisi dengan Golkar untuk menjadi koalisi ke 3. Karena netralitas itulah maka beberapa pentolan PD mendukung kedua pasangan Jokowi-JK (JJ) maupun PH. Tokoh seperti Hatono Isman (HI), Suaedi Marasabessy (SM), dan juga Ruhut Sitompul (RS) memilih mendukung JK, sementara hampir semua petinggi PD beramai-rami ke kubu PH sejak diumumkannya pasangan tsb.

Keputusan PD untuk meninggalkan netralitas tampaknya didorong oleh beberapa alasan: 1) Sikap pemimpin PDIP, Megawati Soekarnoputri (MS) yang terang-2an tidak mau bertemu dangan pak SBY, yg kemudian diikuti oleh para petinggi partai tsb; 2) PD melihat kecenderungan terjadinya penyempitan jarak (gap) elektabilitas PH vs JJ sehingga terjadi kesetaraan permainan (level playing field) antar kedua pasangan; 3) PD melihat ada pengaruh sangat positif koalisi yang dibentuk PH, karena terbukti loyalitas thd partai mendongkrak elektabilitas PS. Dengan demikian kontribusi PD thd pemenangan PH juga ikut menentukan; 4) PD merasa memiliki afinitas politik yg lebih jelas dg PH setelah dlm pasangan tsb menyatakan akan melanjutkan berbagai kebijakan nasional yg telah dibuat pada masa pemerintahan SBY. Keberadaan Hatta Rajasa (HR) yg notabene mantan Meno Ekonomi KIB II menjadi salah satu jaminan akan adanya kesinambungan (continuity) tsb.

Lalu bagaimanakah dengan janji Pak SBY bahwa PD akan menjadi oposisi? Saya kira itu adalah opsi manakala PH gagal menjadi jawara dalam Pilpres nanti. PD akan menjadi kekuatan utama selain Gerindra dan PKS dlm oposisi jika JJ menang. PD akan memapu menjadi pengawas dan penyeimbang kritis bagi Pemerintah dan suaranya jelas akan sangat didengar oleh publik sebagai opisisi karena bagaimanapun PD memilik track record sebagai partai yg berkuasa selama 10 tahun dan dengan capaian yg diakui dunia, baik dalam bidang politik, ekonomi, pertahanan-keamanan, dan sos-bud. Apalagi jika para politisi PD yg menjadi wakil di Senayan nanti lebih baik dari sebelumnya dan memiliki tarck record yg bersih dan kapabel!

Strategi dua kaki akan menguntungkan perkembangan PD pasca 2014 baik jika PH menang maupun kalah. Jika menang, jelas ia akan menjadi bagian pemerintah dan berarti akan bisa meneruskan legacy Pak SBY. Jika kalah, maka posisinya sebagai pihak yg berseberangan dg Pemerintah akan dipakai untuk melakukan mobilisai politik dan memulihkan kekuatannya pada 5 th yad. Jika PD juga pada saat sama melakukan rekrutmen para tokoh yang bersih dan kapabel baij di Pusat maupun Daerah, proses pemulihan tsb akan makin cepat dan efektif. Pada 2019, bukan tidak mungkin partai berlambang Mercy ini akan menjadi penantang yang serius bagi petahana!

Walhasil, PD bermain cukup elegan dengan keputusan mendukung PH. Memang Pak SBY belum secara pribadi ikut bicara, tetapi bukan tak mungkin jika secara tidak terbuka sudah dilakukan sosialisasi dukungan beliau ke seantero pendukung, simpatisan, dan pihak-2 yang selama ini dekat dengan PD. Saya menganggap bahwa kharisma dan pengaruh pribadi Pak SBY masih lebih kuat dibanding dg PD sendiri, sehingga hal ini akan berkontribusi besar bagi upaya pemenangan PH! 


Simak tautan ini:

indonesiasatu.kompas.com/read/2014/07/03/1822393/demokrat.tak.ada.pembicaraan.bagi-bagi.kursi.dengan.prabowo-hatta?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS