Wednesday, October 1, 2014

DAGELAN WALKOUT FPD BABAK KETIGA: BABAK BELUR!.

Persis seperti yg saya prediksi sebelumnya, dagelan babak kedua PD berakhir gagal total seperti halnya babak pertama. Upaya PD membuat kehebohan dg merekayasa drama "badai di cangkir kopi" sudah bubar bahkan sebelum mulai karena tidak akan jalan. Tidak mungkin Pak SBY akan mengusut siapa yg memerintahkan WO di DPR karena berarti mengusut Ibas. Yang terjadi hanyalah 'klarifikasi' yg ujungnya adalah bisa memaklumi kenapa aksi itu dilakukan. Dan itulah yg benar2 terjadi sbgmn berita yg saya tautkan.
Kini yg tersisa adalah sumpah untuk melakukan tuntutan hukum. Dan supaya heroik, maka sumpah itu tentu harus dramatis kedengarannya. Yaitu setelah tidak lagi sebagai Presidenpun Pak SBY akan melakukan gugatan. Mungkin sumpah ini kedengaran hebat, tetapi sayangnya rakyat sudah terlanjur tdk percaya. Apalagi kalau ternyata nanti yg menggugat UU Pilkada itu ternyata sudah banyak dan dg argumen lebih kuat dan berwibawa. Mk nasib gugatan pak SBY pun lebih mengenaskan ketimbang dagelan pertama dan kedua, yaitu bukan hanya gagal, tetapi tidak digubris, bahkan sebelum mulai! Logika rakyat sederhana saja: kalau sekarang saja ketika kekuasaan dan wewenang nasih ada tdk digunakan utk menghentikan upaya pemunduran demokrasi (istilah Pak SBY sendiri), lalu bagaimana jika nanti kekuasaan PD dan Pak SBY sudah makin kecil?
Walhasil, babak dagelan tak lucu yg digelar PD makin tambah tidak menarik utk ditonton. Sebab bukan saja terlalu gampang ditebak bhw ia hanya mainan, tetapi juga karena sebagai permainanpun sama sekali tdk camggih!
Paris, 28 September 2014.
(http://m.detik.com/news/read/2014/09/27/212702/2703246/10/sby-bersumpah-terus-perjuangkan-pilkada-langsung-dengan-perbaikan)
 Persis seperti yg saya prediksi sebelumnya, dagelan babak kedua PD berakhir gagal total seperti halnya babak pertama. Upaya PD membuat kehebohan dg merekayasa drama "badai di cangkir kopi" sudah bubar bahkan sebelum mulai karena tidak akan jalan. Tidak mungkin Pak SBY akan mengusut siapa yg memerintahkan WO di DPR karena berarti mengusut Ibas. Yang terjadi hanyalah 'klarifikasi' yg ujungnya adalah bisa memaklumi kenapa aksi itu dilakukan. Dan itulah yg benar2 terjadi sbgmn berita yg saya tautkan.
Kini yg tersisa adalah sumpah untuk melakukan tuntutan hukum. Dan supaya heroik, maka sumpah itu tentu harus dramatis kedengarannya. Yaitu setelah tidak lagi sebagai Presidenpun Pak SBY akan melakukan gugatan. Mungkin sumpah ini kedengaran hebat, tetapi sayangnya rakyat sudah terlanjur tdk percaya. Apalagi kalau ternyata nanti yg menggugat UU Pilkada itu ternyata sudah banyak dan dg argumen lebih kuat dan berwibawa. Mk nasib gugatan pak SBY pun lebih mengenaskan ketimbang dagelan pertama dan kedua, yaitu bukan hanya gagal, tetapi tidak digubris, bahkan sebelum mulai! Logika rakyat sederhana saja: kalau sekarang saja ketika kekuasaan dan wewenang nasih ada tdk digunakan utk menghentikan upaya pemunduran demokrasi (istilah Pak SBY sendiri), lalu bagaimana jika nanti kekuasaan PD dan Pak SBY sudah makin kecil?
Walhasil, babak dagelan tak lucu yg digelar PD makin tambah tidak menarik utk ditonton. Sebab bukan saja terlalu gampang ditebak bhw ia hanya mainan, tetapi juga karena sebagai permainanpun sama sekali tdk camggih!

Paris, 28 September 2014.

Simak tautan ini:

http://m.detik.com/news/read/2014/09/27/212702/2703246/10/sby-bersumpah-terus-perjuangkan-pilkada-langsung-dengan-perbaikan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS