Wednesday, November 12, 2014

KETIKA INDONESIA JADI REBUTAN

Presiden Jokowi telah menjadi pusat perhatian dlm pertemuan para pemimpin APEC di Beijing, Tiongkok. Bamgsa Indonesia layak berbunga2 hatinya dengan kabar menggembirakan dan membanggakan itu. Perhatian para pemimpin dunia seperti Presiden AS, Barack Obama, Presiden Rusia, Vladimir Putin, PM Jepang, Shinzo Abe, dan tuan rumah Presiden Tiongkok Xi Jinping. Inilah kiranya sebuah pertanda bahwa Presiden baru Indonesia ini mulai diperhitungkan dunia.

Presiden Jokowi sendiri menyebut bhw RI sedang menjadi rebutan dlm percaturan antar-bangsa dewasa ini. Sebab negeri kita memang diakui memiliki potensi menjadi kekuatan ekonomi, politik, dan geopolitik di abad ke 21 setelah terjadi berbagai perubahan fundamental pd lingstra global dan regional pasca-perang dingin usai. Dengan munculnya Tiongkok sebagai rival utama AS di kawasan Asia Pasifik dan kekuatan dominan dlm ekonomi global, maka Indonesia dipandang sebagai mitra penting yg bisa menjadi penyeimbang dan penjaga stabilitas di kawasan Asia Tenggara. RI juga merupakan negara terbesar di kawasan dan secara tradisional dianggap pemimpin ASEAN.

Namun demikian, kegembiraan dan kebanggaan di atas tak ada artinya jika tidak bisa diaktualisasikan dlm kenyataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab ada banyak sekali fakta yg bisa digunakan utk menunjukkan bhw belum tentu posisi diperebutkan tsb adlh positif. Bisa jadi metafora tsb lebih mirip dg perebutan kue oleh pihak2 dari luar. Sama halnya Indonesia pernah jadi rebutan negara kolonial pd abad 15, saat Belanda, Portugis, Spanyol, dan Inggris melakukan ekspansi ekonomi dan politik ke seluruh dunia. Indonesia yg pd saat itu belum menjadi sebuah entitas negara-bangsa, juga diperebutkan karena posisi strategisnya dan kekayaan alamnya. Diperlukan waktu 3,5 abad utk melepaskan diri dari penjajahan dan muncul menjadi sebuah negara bangsa yg berdaulat.
Sejarah menunjukkan bhw hampir tujuh dasawarsa pasca kemerdekaan diraih, negeri ini masih belum terus mengalami pasang naik dan turun. Kondisi ekonomi nasional pada 15 th terakhir masih belum bs disebut membanggakan jika dibandingkan dg negara2 pasca-kolonial di Asia spt Korsel, Tiongkok, India dan bahkan jika dibandingkan dg Singapura dan Malaysia. Justru kian ditengarai ketergantungan ekonomi kpd asing, melebarnya kesenjangan kaya-miskin, merosotnya infrastruktur, dan terancamnya ketahanan energi dan pangan!

Tanpa mengurangi rasa hormat dan optimisme thd pemetintah Presiden Jokowi, saya kira kita perlu proporsional dlm menyikapi antusiasme negara2 besar thd Indonesia. Kita juga perlu memperkuat diri dlm menghadapi perebutan pengaruh dr luar tsb, termasuk dlm mewaspadai implikasi2 dr masuknya modal asing thd kedaulatan kita. Kesadaran thd pentingnya keamanan nasional harus selalu ditumbuhkembangkan pd warganegara terutama generasi muda. Tak ada gunanya jika posisi kita yg diperebutkan itu ternyata bukan menjadikan kita makin kuat dan mandiri. Tak ada manfaatnya kita dipuja puji hanya untuk dikuras SDA nya. Karena ha itu sebenarnya sama saja dg mengulangi keterjajahan dg bungkus yg baru.


Simak tautan ini:

http://www.beritasatu.com/ekonomi/224216-jokowi-punya-posisi-strategis-indonesia-menjadi-rebutan.html
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS