Wednesday, February 11, 2015

PRA-PERADILAN BUDI GUNAWAN, KETHOPRAK 'TANPA' HUMOR

Pagelaran kethoprak, setahu saya, selalu disertai humor, seserius apapun cerita yg digelar. Waktu kecil saya penggemar grup kethoprak keliling "Dharmo Kondho" yg kerap singgah di desa utk beberapa bulan, lalu pindah lagi. Nyaris seminggu sekali saya dan kawan-kawan 'mencuri-curi' nonton pertunjukan tsb sampai larut malam. Tentu dengan resiko kalau ketahuan Ibu saya almarhumah, dimarahi karena bangunnya pasti kesiangan. Anyway, cerita kethoprak itu macam-macam, mulai dari Sam Pek Eng Thay sampai Joko Tarub. Dari Damar Wulan sampai Aladin. Semuanya pasti ada humornya, lelucon yg diselipkan di sana. Selain berisi cerita dan pendidikan moral, juga geguyonan yang bikin ger-geran dan menambah khazanah utk ngobrol di teras Masjid dan langgar.

Tetapi "kethoprak" yg satu ini, sidang pra-peradilan Komjen Budi Gunawan (BG) ini sama sekali tidak ada guyonnya, makanya tidak lucu dan membosankan. Saya menamakannya sebagai kethoprak, bukan proses peradilan, karena sebetulnya tidak layak disebut sebagai sebuah pagelaran proses hukum yg serius dan perlu diliput besar-2an oleh media, dan dikomentari banyak-2 oleh para pakar yang betulan. Ini semacam tontonan "kethoprak" (itupun masih dalam tanda kutip) karena di dalamnya walaupun ada pagelaran, ada plot, ada cerita, tetapi minus pendidikan, dan lebih-lebih lagi tanpa ada humornya. Ini hanyalah sebuah pagelaran utk menunjukkan bahwa para pemain itu punya kuasa yg mesti ditonton oleh rakyat Indonesia, dg tujuan supaya mereka takut dan tunduk, tidak membuat para pemilik kuasa itu 'anyel' alias jengkel.

Karena itu walaupun para pemain 'kethoprak" itu mencoba serius, mereka tetap saja gagal. Misalnya dg menghadirkan barang bukti berupa foto-2 Abraham Samad (AS) dan Bambang Wdjojanto (BW) sedang meringis dan nyengir. Para pengacara BG mengatakan gambar itu menjadi bukti bhw AS dan BW sedang mengejek kliennya. Dan mengejek orang berkuasa itu hukumnya dilarang, karena mereka sama dengan mengejek negara. Itu baru urusan nyengir. Bayangkan kalau mereka ngakak atau nungging, misalnya, tentu semakin seru tudingan para pengacara BG itu. Bukan saja mengejek klien, tetapi mungkin sudah mengejek seluruh bangsa. Dan selain foto itu masih ada puluhak "bukti" lain, yang tentu dicari-2 kaitannya. Kalau pun misalnya ada batu kali pun akan dicari kaitannya dg konspirasi KPK menghadang pencakapolrian BG.

Kethoprak adalah semacam drama yg biasanya mengritik kekuasaan yang lalim lewat humor-2nya. Nah, "kethoprak" di Pengadilan Jaksel ini, justru sebaliknya, malah melecehkan nalar sehat dan nurani. Kethoprak minus humor ini adalah parodi sebuah tontonan kekuasaan yang kehilangan nalar dan nurani. Ia bukan saja tdk memiliki humor, tetapi saya yakin malah dibalik menjadi bahan humor oleh para penontonnya, yaitu rakyat Indonesia. Kethoprak pra-peradilan BG, adalah guyon paling hitam mengalahkan mendung gelap yang memayungi Jakarta hari-hari ini.

Simak tautan ini:

http://www.tempo.co/read/news/2015/02/10/063641376/Mimik-pun-Jadi-Bukti-di-Sidang-Budi-Gunawan
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS