Friday, April 10, 2015

KENAPA PETINGGI PDIP HARUS SYOK SAAT POLITISINYA DITANGKAP KPK?

Bagi saya, reaksi yang pas dari Gub Jateng dan politisi PDIP, Ganjar Pranowo (GP), bukanlah syok ketika tahu bahwa salah satu politisi partainya dicokok KPK di  pada saat Kongres ke VI partainya sedang berlangsung di Bali. GP mestinya bersyukur kepada Tuhan dan juga berterimakasih kepada KPK. Syukur karena Tuhan memberikan hikmah kepada partai tsb dg kasus ini, dan berterimakasih karena KPK telah membantu partai  tsb bebersih diri dari noda-2 korupsi di dalamnya. Ini sangat penting agar PDIP bergeser dari klasemen sebagai parpol yang paling banyak koruptornya (menurut data statistik yang pernah beredar di media sosial tahun lalu). Kalau tidak maka akan percuma saja partai itu menjadi pelopor revolusi mental (entah apapun artinya itu) dan berjanji akan membawa bangsa dan negara Republik Indonesia menjadi hebat!.

Kalau GP, dan mungkin jajaran petinggi di PDIP lainnya, hanya syok dan merasa dipermalukan karena kadernya ditangkap KPK, maka bisa saja itu hanya perasaan kaget sesaat. Nanti ketika hingar-bingar berita itu mulai meredup dan perhatian publik sudah mulai berbeser, bisa saja mereka akan merasa tidak ada apa-apa dan "business as usual". Ancaman akan memecat sang anggota DPR, yg bernama Adriansyah (A) dan masih menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Kalsel itu, pun bisa jadi hanya gertak sambal, agar publik menganggap PDIP bertindak cepat dan tegas terhadap koruptor! Kekhawatiran saya ini bukan mengada-ada, sebab proses pemecatan dari partai dan jabatan anggota Parlemen tentu perlu prosedur yg tak pendek dan tak mudah. Apalagi jika mantera "praduga tak bersalah" sudah mulai diucapkan dan dikampanyekan melalui pakar dan pengamat hukum, pengamat politik, dan media TV yang direkayasa utk itu. Bahkan seandainya KPK bertindak cepat, bisa saja langkahnya dihadang oleh pengajuan praperadilan dan segala macam cara. Walhasil, reaksi syok yg dilontarkan GP dan para elit PDIP lainnya lebih merupakan parade pencitraan politik ketimbang sebuah pengakuan yang 'genuine'.

Di pihak lain, Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilancarkan KPK adalah sebuah indikasi bahwa lembaga antirasuah itu tetap bergeming kendati menghadapi berbagai rintangan dan upaya pelemahan. Salah satu Plt. pimpinan KPK, yg juga mantan jubir KPK, Johan Budi (JB) jelas-jelas menyampaikan pesan moral itu kepada publik dan rakyat Indonesia dalam konpersnya, yg saya simak dari radio Elshinta siang ini. Saya setuju sepenuhnya dengan pesan moral JB. OTT ini harus dijadikan sebagai bukti penting bahwa KPK tetap berjaya.  Rakyat Indonesia yang sebagian sudah sempat sediki nglokro pasca praperadilan BG, diharapkan akan bangkit kembali dlm mendukung dan melindungi kirpah lembaga antirasuah tsb. Signifikansi OTT di Bali ini, hemat saya, bukan hanya terbatas pada soal pelaksanaan pemberantasan korupsi saja, tetapi juga pada politik pemberantasan korupsi yang sedang mengalami pelemahan dan terancam krisis kepercayaan (trust). Dukungan rakyat perlu ditumbuhkan, digiatkan kembali, dan dikembangkan terus menerus. Utk itu KPK perlu menunjukkan kinerjanya yang pantang menyerah. OTT di Bali adalah sebuah langkah yang signifikan bagi KPK.

Bravo KPK!


Simak tautan ini:

http://news.okezone.com/read/2015/04/10/337/1131954/kader-pdip-ditangkap-kpk-ganjar-pranowo-syok
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS