Friday, July 10, 2015

KERJASAMA KOMUNITAS LINTAS-IMAN MEMERANGI KEBENCIAN

Kalau di Indonesia, warga Gereja membantu warga Muslim yang kesusahan, dan sebaliknya, barangkali merupakan kabar yg tidak terlalu istimewa lagi sekarang. Apalagi di wilayah luar Jawa yang adat istiadat gotong royongnya masih kuat, seperti Manado, NTT, Maluku, Sumut, dll. Tetapi utk di Amerika, kabar ummat Muslim membantu gotong royong warga Kristiani membangun kembali Gereja yang dirusak pihak-2 tak bertanggungjawab, sepertinya cukup langka. Bukan saja karena ummat Muslim di AS termasuk minoritas, tetapi juga karena biasanya komunitas mereka agak terpencar-pencar sehingga terlalu kecil untuk bisa menyumbangkan dana. Tetapi setelah saya membaca lebih teliti kabar itu, saya mafhum akhirnya. Sebab para pengumpul dana bantuan adalah organisasi yang memang cukup handal dalam melakukan kampanye penggalangan dana melalui media, sehingga kendati secara fisik tidak besar tetapi kapasitas mereka utk melakukan aksi tsb sangat efektif.

Yang bagi saya lebih penting adalah semangat saling menolong antara pihak-pihak yang sering menjadi korban kekerasan berdasarkan kebencian (hatred) dalam kasus ini. Masyarakat kulit hitam di AS masih tetap menjadi 'langganan' perlakuan diskriminatif di beberapa negara bagian, khususnya di pedalaman Selatan (deep South) seperti di Karolina Selatan (South Carolina) itu. Bukan berarti di bagian Utara sudah tdk ada lagi perilaku diskriminasi warna kulit, tetapi jumlah kejadian seperti perusakan Gereja sepeti itu lebih banyak dijumpai di wilayah Selatan.

Memang diskriminasi ras di AS lebih mendalam ketimbang, misalnya, kesukuan karena faktor latar kesejarahan yg bisa dirunut sejak masa perdagangan budak-2 kulit hitam dari Afrika pada abad ke 17-18. Kendati agama (Kristen), yang dipeluk oleh warga kulit putih juga dipeluk oleh para keturunan warga kulit hitam, tetai tampaknya masih belum mampu mengusir sepenuhnya rasialisme. Gerakan-gerakan anti-rasialisme, uniknya, juga banyak dipelopori oleh para agamawan kulit hitam, seperti Dr. Martin Luther King (MLK) dan tentu saja idiom-2 pembebasan manusia dari belenggu diskriminasi rasial diambil dari Kitab Suci yang sama.

Lebih dari dua abad usia negeri Paman Sam itu, tetapi luka-2 karena kebencia ras tsb masih terus menerus muncul dan/ atau dimunculkan. Karenanya, solidaritas lintas-agama seperti yg dilakuka oleh ummat Muslim AS itu menjadi sangat penting artinya, karena hal itu menunjukkan adanya landasan bersama (common ground) dari ummat beragama utk bekerja sama, bahu membahu, memberantas kebencian. Perbedaan keimanan tdk boleh menghalangi munculnya solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), tetapi sebaliknya, bisa ikut memperkuat. Ini adalah sebuah peristiwa yang perlu dicermati dan dicontoh, bahkan oleh bangsa Indonesia yg sudah lebih lama melakukan kerjasama komunitas lintas-iman tsb. Semoga...

Simak tautan ini:

http://internasional.kompas.com/read/2015/07/09/17365831/Organisasi.Muslim.AS.Bantu.Renovasi.8.Gereja.Kulit.Hitam.yang.Dibakar
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS