Tuesday, September 22, 2015

POLITIK IDENTITAS DALAM KAMPANYE PRESIDEN AS

Setelah capres Donald Trump (DT) mendapat kritik keras karena dianggap tidak sensitif terhadap Islamophobia dan rasisme dalam kampanye, kini disusul oleh capres lain dari partai yang sama yaitu Partai Republik, Ben Carson (BC), yang juga terang-terangan menyatakan ketidak setujuannya jika capres AS adalh pemeluk Islam. BC mengatakan, dalam wawancara dengan stasiun NBC dlm acara Meet The Press, yg disiarkan Minggu 20/9/15: "Saya tidak akan mendukung untuk menjadikan seorang Muslim memimpin negeri ini... Saya sama sekali tidak akan menyetujuinya." ("I would not advocate that we put a Muslim in charge of this nation,... I absolutely would not agree with that). Ketika ditanya apa alasannya, BC menyatakan bahwa "Agama Islam tidak konsisten dengan Konstitusi AS." (The Islamic faith as inconsistent with the Constitution).

Ucapan BC sontak mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk kolega capres dari Partai Republik sendiri, misalnya dari Senator Lindsey Graham (LG), yang meyebut ucapan tsb menandakan bahwa BC belum pantas menjadi seorang Presiden di AS. Kalanga Partai Demokrat, seperti Hollary Clinton (HC) dan Bernie Sanders (BS) juga mengritik keras ucapan tsb, karena jelas-jelas melanggar Konstitusi AS yang tidak menganggap agama sebagai syarat seseorang menjadi Presiden. Pasal 6 Konstitusi jelas mengatakan bahwa tidak ada prasyarat test keagamaan utk menentukan kualifikasi calon pejabat negara ( “No religious Test shall ever be required as a Qualification to any Office or public Trust under the United States.”) Demikian pula Amandemen 1 Konstitusi, yang melarang pembentukan aturan hukum terkait dengan suatu agama dan/ atau menghalangi pelaksanaan agama secara bebas (the United States Constitution prohibits the making of any law respecting an establishment of religion, impeding the free exercise of religion).
Kelompok perlindungan HAM, khususnya organisasi Islam di AS, seperti Dewan Masalah Hubungan Islam-Amerika (The Council on American-Islamic Relations), meminta BC mencabut ucapannya dan mengundurkan diri sebagai capres. BC menolak tuntutan tsb, kendati ia kemudian 'memperhalus' dengan mengatakan bahwa dirinya setuju jika pemeluk Islam menjadi anggota Kongres AS. Dalam hal ini BC mirip dengan DT yang setelah kritik muncul thd dirinya, kini dia mengatakan bahwaa dirinya tak keberatan jika ada seorang Muslim menjadi anggota di Kabinetnya jika ia terpilih. DT juga menyatakan bahwa dirinya punya banyak teman Muslim yang hebat-hebat dan mengagumkan.

Fenomena politik identias yang kemudian tampil dalam bentuk statemen-2 xenophobia di AS ini bisa jadi bahan pelajaran bagi pemimpin dan rakyat Indonesia yg sedang membangun dan mengembangkan demokrasi. Dari pengalaman bangsa yg sudah berdemokrasi lebih dari dua abad lamanya, ternyata ancaman yg datang dari gagasan dan pikiran serta praktik-2 diskriminatif seperti rasisme masih tetap ada. Apalagi bangsa yg relatif baru dalam menegakkan sistem demokrasi. Demokrasi bukanlah sebuah sistem yang sekali jadi dan bisa diterapkan seperi ukuran baju yg seragam. Demokrasi juga melibatkan gagasan, pikiran, budaya yang terus menerus mesti dikembangkan, dipelihara dan dijaga dari ancaman-2. Termasuk ancaman zenophobia, rasisme, kekerasan, dll.

Simak tautan ini:

http://www.cbc.ca/news/world/carson-muslims-president-1.3238042
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS