Friday, December 18, 2015

HASIL SIDANG ETIK MKD: KEMENANGAN PARA POLIYO, DAN KEKALAHAN NKRI

Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD)-DPR, yang mungkin layak utk dijuluki sebagai "Mahkamah Konyol dan Dhagelan" itu, akhirnya menutup sidangnya semalam (16/12/205) tanpa ada keputusan yang jelas apakah sang teradu, Ketua DPR, Setya Novanto (SN), salah atau tidak salah. Pimpinan sidang, politisi dari PKS, Surahman Hidayat (SH), hanya mengatakan "(s)idang atas laporan Sudirman Said dinyatakan ditutup dengan surat pengunduran diri Setya Novanto." Dan tanpa menutupi rasa gembiranya, sang politisi itu pun mengakhiri pidato penutupan dengan menyatakan bhw sidang etik MKD: "Alhamdulillah sudah berakhir dengan happy ending," (http://www.suara.com/…/novanto-mundur-ketua-mkd-berakhir-ha…).

Memang kalau dilihat dari sisi kepentingan politik SN, SH, dan parpol pendukung mereka, hasil sidang MLD itu dianggap sudah melegakan dan menyenangkan. Alasannya, 1) SN tidak dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran etik, walaupun menurut mayoritas anggota MKD sebaliknya; 2) SN masih tetap menjadi anggota DPR; 3) Penyelamatan muka SN dan Partai Golkar dari sebuah peristiwa memalukan, jika kadernya jadi Ketua DPR pertama dlm sejarah RI yg dipecat tidak dengan hormat; 4) Parpol pendukung tidak usah repot-2 mempertanggungjawabkan kelakuan mereka kepada rakyat. Cukup mengatakan itulah hasil capaian mereka yang maksimum; 5) Di Istana, pihak pendukung SN pun lega dan akan berkampanye bhw kehebohan politik telah dpt dihindarkan.

Namun jika dilihat dari sisi nalar waras dan nurani, maka MKD telah melakukan kesalahan yang sangat memalukan bangsa dan NKRI serta menjadikan reformasi dan demokrasi mencadi olok-olok (farce). Alasannya: 1) Kegagalan membuat putusan ttg pelanggaran etik merupakan kegagalan menjalankan fungsi kelembagaan; 2) Kalau alasannya karena SN sudah mundur, lebih parah lagi. Karena pernyataan mundur si teradu tak berarti proses persidangan lantas selesai; 3) Proses peradilan etik yang penuh dengan pergantian anggota secara semena-mena dan dilihat oleh publik, merupakan pameran ketidak profesionalan dan hanya merupakan panuver politik murahan; 4) Parpol dan para politisi yang selama ini membela SN, makin transparan dalam kemunafikan mereka, karena penghentian sidang tanpa putusan tsb. Sebab mereka selama ini sesumbar utk menuntaskannya; dan 5) Proses sidang etik MKD ini ditonton dan dipelajari bukan hanya oleh rakyat di Indonesia, tetapi juga dunia internasional. MKD telah pamer betapa buruknya kualitas DPR dan kemampuan para politisi di dalamnya. Hal ini dapat berarti menjatuhkan nama bangsa dan NKRI.

Hemat saya, akhir dhagelan politik di Senayan semalam, sama sekali bukan sebuah "happy ending" seperti kata pimpinan MKD, SH. Akhir episode tsb merupakan sebuah penghinaan terhadap nalar sehat, nurani, reformasi, dan proses demokratisasi. Kalau ada orang yang bilang sebagai akhir yang bahagia, maka saya meragukan kewarasan nalar dan nurani orang tsb, serta kelayakannya sebagai wakil rakyat Indonesia di lembaga negara itu. Nalar dan nurani yang waras seharusnya sangat malu dan sedih dengan ujung proses yang disebut sidang MKD tsb.

MKD DPR, SHAME ON YOU, BIG TIME!!

Simak tautan ini:

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/16/078728291/tanpa-putusan-mkd-hentikan-kasus-setya-novanto




Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS