Tuesday, October 4, 2016

ADAKAH KEPENTINGAN POLITIK DIBALIK SKANDAL DIMAS KANJENG?

Bukti-bukti bahwa praktik perdukunan dan penipuan yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng (DK), pemilik padepokan dengan nama yang sama di Probolinggo, semakin terkuak. Setelah DK ditangkap Polisi dan dinyatakan sebagai tersangka penipuan penggandaan uang, dan kemungkinan terlibat dalam kasus pembunuhan dua orang pengikutnya, kini terbongkar pula adanya beberapa peti berisi batangan-2 emas palsu dan uang palsu dari berbagai valuta asing di Makassar. Aparat dari Polda Sulsel dan Jatim bersama-sama melakukan operasi di rumah keluarga almarhumah Najmiah (N) di Makassar dan menemukan setidaknya ada 4 peti berisi batangan emas palsu dan uang palsu.

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan (AC), menyatakan bahwa sebenarnya ada 9 peti yg dikirim ke Makassar oleh DK, namun 5 diantaranya dikembalikan karena hanya berisi kertas-2 kosong. Sedangkan yang 4 peti diterima dan ternyata isinya adalah emas dan mata uang asing dr beberapa negara yng juga palsu! Peti-2 tsb merupakan pemberian DK kepada N, yang telah membayar uang 'mahar' yang tidak tanggung-2 jumlahnya, yaitu sekitar Rp 202 miliar lebih. Pemebertian tsb berlangsung bertahap sejak 2013 sampai sebelum N wafat, dan tampaknya beliau percaya bahwa DK akan mengembalikannya berlipat-lipat jumlahnya.

Dari temuan-temuan ini, patut dipertanyakan apakah tindak kriminalitas yg dilakukan DK adalah suatu hal yang semata-mata 'murni' penipuan uang untuk keperluan DK dan orang-orang dekatnya. Apalagi jika kemudian terdapat berbagai indikasi bahwa yang bersangkutan ternyat memiliki pengikut ribuan dan juga jejaring yang luas, yang mencakup mantan pejabat negara, politisi terkemuka, tokoh-tokoh adat, pemimpin ormas cendekiawan dan keagamaan, serta oknum-oknum aparat keamanan, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Karena itu, penyelidikan sangat perlu untuk diperdalam dan diperluas karena jumlah uang yang luar biasa besar bisa jadi telah terkumpul dan bukan suatu yang berlebihan, jika muncul dugaan bhw uang tersebut digunakan untuk mendanai berbagai kegiatan, termasuk untuk kepentingan politik.

Skandal DK ini merupakan sebuah bukti kongkrit bahwa keserakahan dan ambisi kekuasaan saling berkait sedemikian kuat dan mampu membuat nalar sehat dan status sosial terhormat telah dikorbankan dengan sia-sia. Bahkan lembaga keagamaan dan nilai-2 spiritualitas telah dicemarkan dan didegradasi sedemikian vulgar, sehingga menjadi bahan pelecehan dan penistaan di dalam masyarakat. Dan dalam konteks kekinian, skandal ini bukan hanya menjadi perhatian di dalam negeri, tetapi saya yakin juga menjadi sorotan masyarakat internasional.

Tentu saja akan selalu terdapat pihak-pihak yg masih memberikan pembelaan terhadap DK dan para pendukungnya, dan mereka akan menggunakan berbagai dalih utk membungkus praktik kriminal tsb, termasuk menggelar wacana spiritualitas dan kegaiban. Namun pihak penegak hukum seyogyanya terus mencari dan mendalami kasus ini, termasuk mengungkap aktor-aktor intelektual di balik skandal ini. Bahkan tak ada salahnya untuk menyelidiki kemungkinan adanya kekuatan politik dan berbagai agenda yang ada di baliknya. Sebab rasanya tidak mungkin jika skandal yang demikian massif, sistematis, dan terstruktur seperti ini hanya merupakan sebuah tindak pidana "murni" penipuan saja.

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS