Tuesday, November 8, 2016

AHOK DAN MODEL KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF


Kuliah yg saya berikan hari ini agak berbeda dengan biasanya karena saya mengajak mahasiswa utk mendiskusikan kasus Ahok dari perspektif budaya dan kepemimpinan. Saya mengajar mata kuliah "Budaya dan Komunikasi Internasional" utk mahasiswa tahun kedua, dan tema diskusi adalah tentang kaitan antara "soft power" dan kepemimpinan. Saya menggunakan konsep Joseph Nye ttg dua macam tipe kepemimpinan: "transformational" vs "transaksional". Yg pertama sangat terkait dg "soft power" karena mengutamakan perubahan melalui gagasan dan praksis berdasarkan nilai2 ideal utk kepentingan bersama. Yg kedua lebih cenderung pd penyelesaian masalah secara transaksional yg pragmatis utk kepentingan kelompok dalam jangka pendek.

Mahasiswa saya berlatar belakang identitas yg amat beragam termasuk dr negara asing. Mereka adlh anak2 muda dari kelas menengah dan menegah keatas yg datang dari berbagai wilayah negeri ini. Yang asal Jakarta malah tidak banyak. Secara etnis juga sangat heterogen kendati yg mengaku bersuku Jawa dan Sunda masih relatif lbh banyak ketimbang Tionghoa atau etnis lainnya. Sayangnya belum ada yg dari Papua, dan yg dari wilayah paling Timur dari Maluku atau paling Utara dari Minahasa. Yg dari Aceh lumayan banyak walau tak sebanyak dari Sumut atau Sulteng.

Bagi saya pandangan mereka tentang kepemimpinan Ahok cukup menarik karena tak satupun dari tigapuluhan mahasiswa di kelas saya, yg usianya sekitar 19-20 tahunan itu, menganggap Ahok sebagai pemimpin tipe "transaksional." Seratus persen mengatakan Gubernur DKI non aktif itu adalah termasuk pemimpin tipe "transformational." Mereka berargumen bhw Ahok adlh tipe pemimpin yg tidak mementingkan diri dan kelompoknya kendati beliau dari kelompok minoritas. Ahok juga terbukti mampu merubah wajah Jakarta dlm tempo tak lama dan keberanian sang gubernur untuk menghadapi rintangan.

Karena saya berperan sebagai "devil advocate" dlm diskusi itu, tentu saya tanyakan mengapa Ahok diprotes dan di demo besar2an spt 411 kemarin. Sebagian menjawab hal itu karena salah paham thd gaya Ahok yg dianggap vulgar dan sentimen primordial. Sebagian mengatakan karena masyarakat kita memang masih banyak yang hipokrit sehingga tidak mau menghilangkan prasangka buruk terhadap mereka yg dianggap berbeda agama dan etnis yg bukan mayoritas. Sebagian lagi mengatakan sebabnya adlh permainan partai2 politik karena Ahok dianggap penghalang utama dlm pilkada.

Lalu apa yg bisa dilakukan Ahok utk menyelamatkan diri dari kegaduhan tsb? Mereka kebanyakan menyarankan agar sang petahana itu meninggalkan kebiasaan bicara vulgar, walaupun kebiasaan lokal (daerah) dan gaya seseorang bukan hal yg pasti jelek. Ada yang mengatakan Ahok cuek saja yang penting kerja. Ada lagi yg menyarankan kompromi dan dialog. Bagian solusi ini yg lemah dlm diskusi ini, tapi saya bisa memaklumi karena mereka masih tahun kedua.

Terus terang saya agak terkejut dengan persepsi positif yg merata thd kepemimpinan Ahok, kendati saya mencoba mencecar dg pertanyaan2 yg lumayan tajam seperti isu dugaan penistaan agama, reklamasi, penggusuran, dan kasus RS Sumber Waras. Mereka cenderung percaya kpd KPK dan Polri untuk mengungkap kasus2 yg ditudingkan thd Ahok. Sayangnya mereka juga tdk terlalu optimis bhw Ahok tak akan diganggu terus kalaupun beliau ternyata tak bersalah.

Sebagai guru mereka, diam2 saya bangga juga kepada anak2 muda itu karena kejujuran memberikan respon dan ketertarikan mereka thd kasus Ahok. Saya sudah agak khawatir jangan2 mereka cuek dg persoalan yg mungkin tdk terkait secara langsung dg kepedulian mereka. Sebab para remaja seusia mereka umumnya lebih sibuk dengan diri sendiri apalagi jika mereka bukan orang Jakarta.

Ternyata saya salah, dan saya "senang" karena saya salah. Hehehehe...
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS