Wednesday, November 2, 2016

MEMBACA "KEGERAHAN" PAK SBY THD PEMERINTAH JOKOWI


Konperensi pers Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Rabu (2 November 2016) di Cikeas terkait dengan perkembangan politik terakhir, termasuk namun tdk terbatas pada rencana demo anti Ahok di Jakarta, sangat menarik utk dicermati. Bukan saja karena substansinya yang penting dan kekinian, serta dikemukakan pada momen yg tepat, tetapi juga karena nuansa pidato SBY yang lain dari biasa. Teramat langka beliau bicara di depan pers dengan nuansa melampiaskan kejengkelan dan kesuntukan, apalagi kemarahan, yg terpendam seperti hari ini. Ini bukan sekedar 'curhat' SBY seperti yg sering dikesankan orang thd beliau, tetapi sudah merupakan luapan rasa gerah (outrage) yg ditujukan kepada Pemerintah, termasuk Presiden Jokowi (PJ). (https://news.detik.com/berita/d-3335142/sby-kita-ingin-jokowi-sukses-tapi-jangan-korbankan-orang-untuk-politik)

SBY yang berbicara monolog (tanpa ada tanya jawab) bukan SBY yang biasanya tampil di ruang publik: 'cool', tutur kalimat runtun dan tersusun rapi, penuh lemparan senyum, gerak tangan beragam, dan tanpa ekspressi wajah emosi. SBY hari ini tampil dengan kesan kurang sabar atau tidak 'cool', pilihan diksi yg tak rapi dan disampaikan terputus-putus, diseling dg berulangkali menghapus keringat di wajah dengan sapu tangan. Gerakan tangan menjadi ciri khas SBY, muncul tak beraturan, serta ekspressi roman muka yg nyaris tanpa senyum, apalagi humor.

Kegerahan SBY mulai kelihataan saat beliau menyinggung kiprah intelijen yg cenderung tidak akurat dan berpotesi asal tuduh terhadap pihak-2 di luar pemerintah yg melakukan berbagai pertemuan. Bisa jadi beliau merasa ada pemberitaan atau informasi yg bersumber dari komunitas telik sandi yg dianggap tendensius terhadap lawan politik PJ. Dan sebagai pemimpin parpol yg berada di luar pemerintahan, SBY mengingatkan agar laporan intelijen "harus akurat jangan berkembang menjadi intelijen yang ngawur dan main tuduh." (https://news.detik.com/berita/d-3335116/sby-intelijen-harus-akurat-jangan-ngawur-dan-main-tuduh).

Terkait soal demo Anti-Ahok, pernyataan SBY terkesan ambigu atau diplomatis. Di satu pihak beliau berpesan agar semua pihak taat dengan proses hukum dan tidak main paksa, tetapi di pihak lain, beliau cenderung mengamini pandangan bahwa gerakan protes tsb terjadi karena pihak yang berwenang belum merespon kehendak kelopok anti gubernur DKI tsb. Namun demikian saya kira SBY berusaha utk bersikap fair ketika menyatakan bhw kasus Ahok ini tidak digunakan untuk mengganjal sang petahana utk ikut bertanding dlm Pilkada DKI.

Kegerahan SBY thd Pemerintah PJ mencapai puncak ketika beliau menyinggung TPF Munir. SBY melihat inkonsistensi Pemerintah PJ, yg disatu pihak mengatakan tidak akan memeriksa sang mantan Presiden, tetapi di pihak lain pihak Kejagung menyatakan akan memeriksa beliau. Bagi Presiden RI ke 6 itu, fakta tsb membuatnya gundah karena ada kesan dirinya dianggap bagian dr konspirasi dalam kasus kematian Munir. SBY menegaskan: "Begini gundahnya, ini nggak salah negara, kalau saya justru dijadikan tersangka pembunuhan Munir? Nggak kebalik dunia ini jika SBY terlibat dalam konspirasi pembunuhan Munir, come on!." (https://news.detik.com/berita/d-3335139/sby-nggak-kebalik-ini-sby-disebut-terlibat-konspirasi-kasus-munir-come-on).

Kecurigaan bahwa ada berbagai upaya dari lawan politik SBY untuk memojokkan dan/atau mendiskreditkan beliau, partai PD, dan bahhkan putranya, Agus H. Yudhoyono (AHY), yg kini sedang berlaga dlm Pilkada DKI, terasa sangat kental dlm konpers kalli ini. Rumor terkait harta kekayaan SBY dan rumah pemberian Negara kepadnya pun menjadi satu paket di dalam upaya tsb. (https://news.detik.com/berita/d-3335166/sby-rumah-yang-diberikan-negara-kurang-dari-1500-meter-persegi-bukan-5-ribu)

Publik di Jakarta maupun di seluruh Indonesia tentu akan menilai baik tampilan maupun substansi konperensi pers SBY yg sangat lain dari biasa ini. Dan tentu saja PJ yg menjadi salah satu target kritik perlu memberikan respon, agar ada klarifikasi dan membuat jernih persoalan yang dipertanyakan sang mantan Presiden. Jangan sampai terjadi pelebaran persoalan yg dampaknya akan kian mengganggu stabilitas politik dan kamnas.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS