Wednesday, November 9, 2016

SAFARI POLITIK PRESIDEN JOKOWI KE ORMAS ISLAM PASCA-411


Kunjungan bergiliran yang dilakukan Presiden Jokowi (PJ) kepada beberapa ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah, hemat saya penting dilakukan untuk menyerap informasi dan aspirasi dari umat Islam melalui organisasi tersebut, khususnya untuk mendengar secara langsung respon terkait demo 411. Selain menyerap informasi dan aspirasi, safari politik tersebut juga penting maknanya karena hal itu adalah refleksi dari sikap menghormati para pemimpin organisasi massa Islam yang, dalam sejarah perjuangan RI, termasuk ujung tombak baik saat negeri ini masih belum lahir maupun saat negeri ini mengalami cobaan.

Aksi massa pada 4/11/16 merupakan peristiwa politik yang mempunyai makna signifikan bagi Pemerintah PJ, terlepas dari berbagai pendapat pro dan kontra terhadap tujuan dan targetnya. PJ tentu saja berkepentingan menjalik komunikasi intensif semua pihak yang memiliki pengaruh dalam masyarakat sipil agar bisa membantu meredam gejolak ataupun dampak ikutan yang mungkin terjadi.

Tentu saja merupakan hak PJ untuk memilih pihak mana, baik individu maupun kelompok, yang akan beliau kunjungi karena tentu beliau juga telah memikirkan secara matang langkah komunikasi politik tsb. Jadi jika seandainya saran agar PJ menemui FPI tidak diikuti oleh beliau, hal itu tentu karena ada pertimbangan strategis maupun taktis. Bisa jadi hal itu hanya soal waktu saja, atau memang beliau tidak memilih ormas tsb sebagai pihak yg diajak berkomunikasi.

Dalam pandangan saya, kalaupun PJ tidak bertemu dg FPI, hal itu bisa dipahami dan logis saja. Sebab apa yang menjadi aspirasi ormas tsb, terkait proses hukum terhadap Gubernur DKI non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok, telah terpenuhi. Proses hukum yang dipercepat oleh Kapolri, Jenderal M. Tito Karbnavian (MTK) telah berjalan dan akan segera sampai ke tahapan gelar perkara. Sedangkan ormas seperti NU dan Muhammadiyah memiliki posisi strategis yg berbeda sehingga dipilih utk dikunjungi langsung.

Dan ternyata hasil kunjungan thd dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu, dianggap PJ sebagai masukan yang bernilai penting. Bukan berarti masukan-2 mereka akan diterima secara total, tetapi jelas menjadi bahan pertimbangan dalam penyelesaian masalah yang berimplikasi strategis itu. Apa yang saya istilahkan dengan model "blusukan ke atas" oleh PJ secara konsisten dilakukan, pasca-pertemuan Hambalang. Inilah strategi komunikasi politik 'jemput bola' atau proaktif yang efektif untuk mendinginkan suasana sambil mengupayakan titik-titik kesepahaman bersama.

PJ cukup arif utk tidak merespon langsung kritik-kritik tajam yg disuarakan oleh kedua petinggi ormas-2 Islam tersebut, bahkan sebaliknya menganggapnya sebagai "masukan yang bagus" dan "(y)ang belum baik akan kita perbaiki." Beliau juga menyampaikan bahwa sebagai manusia, beliau mengakui "penuh dengan kesalahan, penuh dengan kekurangan." Apakah makna dari statemen "low profile" alias "nylondohi" dari tradisi Jawa itu? Bagi orang Jawa yang punya pemahaman yg mendalam, ia adalah sebuah isyarat bahwa beliau siap menerima masukan tetapi juga menunjukkan bahwa pihak lain juga perlu melakukan introspeksi.

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS