Wednesday, December 7, 2016

INSIDEN SABUGA: INTOLERANSI DAN MODUS DELEGITIMASI POLITIK

Sungguh miris membaca berita yang mengutip statemen Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), mengenai insiden pembubaran acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal di Sabuga, Bandung, oleh sekelompok oprang yang menamakan diri sebagai ormas Pengawal Ahlus Sunnah (PAS) dan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) semalam (6/12/16). Gubernur yang diusung oleh PKS itu menyatakan: "Itu kan kejadian kecil yang tidak mengganggu apa-apa saya kira." Selanjutnya dia juga mengatakan bahwa pembubaran bisa dihindari apabila ada musyawarah sehingga semua pihak dapat menahan diri dan saling menghormati.

Statemen Aher ini bagi saya merupakan ekspresi dari berbagai hal. Pertama, ia adalah ekspressi sikap insensitif pejabat pemerintah di Provinsi Jabar terhadap kondisi masyarakatnya yang telah terjangkit virus intoleransi. Bahkan LSM The Wahid Institute (TWI) beberapa waktu lalu didalam laporan hasil surveinya ternyata propinsi tsb berada pada urutan pertama kasus intoleransi di Indonesia. (http://linkis.com/m.liputan6.com/regio/yx1S7). Insiden Sabuga itu jelas merupakan perwujudan intoleransi agama yang akan berdampak sangat serius bagi relasi ummat beragama bukan hanya di Bandung tetapi bisa melebar ke wilayah lain di Jabar. Mengatakan insiden tsb sebagai masalah kecil, jelas menunjukkan betapa insensitifnya Kepala Daerah tsb.

Kedua, jika dilihat dari perspektif strategis, maka insiden yg tampak di permukaan hanya "kecil" itu, sejatinya adalah sebuah bagian dari sebuah manuver politik yang lebih besar. Ia adalah sebuah ekspressi pameran kekuatan politik dari kelompok yang menggunakan agama sebagai alat delegitimasi yg efektif. Pameran kekuatan itu, jika berhasil menjadi sorotan media dan publik di seantero negeri, maka bisa saja akan dijadikan sebagai semacam platform aksi-aksi sama di wilayah-wilayah lain. Kelompok yg menamakan dirinya PAS dan DDI itu bisa saja merupakan uji coba sejauhmana pengaruh kekuatan Islam politik di daerah setelah moncer pada tataran nasional. Kendati informasi ttg kiprah ormas-2 ini belum banyak dilaporkan oleh media, tetapi saya tak akan kaget jika PAS dan DDII ini juga memiliki kaitan atau jejaring dengan kelompok-kelompok Islam politik yang ada baik di Bandung. Jika ibu kota Jabar ini "sukses" bukan tidak mungkin insiden-2 sama akan menjadi modus operandi di berbagai daerah.

Ketiga, reaksi yang enteng dari Aher ini juga bisa menjadi petunjuk bahwa kemungkinan akan dilakukannya suatu tindakan yang bersifat tegas terhadap insiden intoleran di wilayah ini cukup kecil. Tidak adanya rasa urgensi (sense of urgency) menjadi sangat kentara dengan statemen Aher yang terkesan malah menimpakan terjadinya insiden Sabuga itu kepada kedua belah pihak yang bersengketa. Tentu saja, dalam konteks hubungan ummat beragama, pihak penyelenggara KKR Natal cenderung berada dalam posisi tawar yg lebih lemah. Seharusnya pejabat negara seperti Aher memperhatikan juga perimbangan posisi tsb dan kemudian ikut proaktif. Dengan sikap seperti yg ditunjukkan oleh Aher itu, terus terang saya ragu apakah jika terjadi insiden-2 intoleran lainnya, apakah kira-2 pihak Pemda akan lebih sigap atau tetap saja sama seperti sekarang?

Dari perspektif kamnas, hemat saya, insiden Sabuga ini mesti disikapi lebih cepat, tegas, professional, dan persuasif oleh Pemerintah Presiden Jokowi (PJ) dan tidak hanya menyerahkan kepada Pemda Jabar saja. Sebab saya menduga hal ini bukanlah sebuah insiden yg berdiri sendiri (stand alone) tetapi bagian dari fenomena primordialisme dan sektarianisme yang sedang ngetren di negeri ini. Target jangka pendeknya adalah menarik perhatian sebesar-2nya dari publik di dalam negeri dan juga di luar negeri utk cipta opini yang negatif thd PJ dan relasinya dengan ummat beragama, khsususnya Islam. Ini harus disikapi dengan segera tetapi tetap dengan mengandalkan soft power approach dan bukan semata-mata penegakan hukum.

Ormas-2 Islam besar seperti Muhammadiyah, NU, Persis dll sangat penting perannya utk meredam kecenderungan ini, dengan cara mengambil jarak dari kelompok-2 Islam politik itu. Saya kira reaksi kritis dari Pemuda Muhammadiyah thd insiden ini, perlu diacungi jempol (http://nasional.kompas.com/read/2016/12/07/09554781/pemuda.muhammadiyah.sesalkan.pembubaran.ibadah.di.sabuga.bandung) dan perlu segera diikuti oleh ormas Islam lain dan juga ormas -2 agama non-Islam di negeri ini. Dengan cara ini maka suatu pembatasan (containment) terhadap kampanye intoleransi bisa dilakukan dan Pemerintah PJ bisa dengan efektif melakukan intervensi persuasif dalam rangka meredam eskalasinya.

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS