Thursday, December 8, 2016

INTOLERANSI TERHADAP MINORITAS, "AMERICAN STYLE"


Yang namanya intoleransi terhadap kelompok minoritas, perempuan, warna kulit dan ras serta etnik tertentu, sedang menjadi tren global. Bukan hanya di negara kita, yang memang masih sedang berjuang keras untuk melaksanakan sistem demokrasi sesuai landasan Pancasila dan UUD 1945, tetapi juga di negara yg sudah paling lama berdemokrasi seperti Amerika Serikat (AS). Bahkan hari-hari ini di negeri Paman Sam itu, insiden-insiden yang bisa dikategorikan dalam praktik intoleransi itu terkesan sangat marak dan menjangkiti nyaris seluruh lapisan masyarakat.

Tengok saja insiden yg menimpa Ilhan Omar (IO), 34 th, seorang perempuan waragnegara AS keturunan Somalia, yang baru saja terpilih menjadi anggota DPRD di negara bagian Minnesota. Ibu tiga anak ini merupakan perempuan keturunan Somalia pertama dalam sejarah AS yg berhasil meraih posisi politik tersebut. IO memenangkan pileg 2016 di Minnesota dengan tiket dari Partai Demokrat, Petani, dan Buruh (DFL) di negara bagian tsb. Platform aktivis LSM bernama "Women Organizing Women Network" dan sekaligus konsultan politik tsb adalah pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan. Permpuan yg pindah dari Somalia ketika berusia 11 th ini dikenal sebagai "the rising star" alias bintang yg sedang moncer di kalangan komunitas Somalia-Amerika di Minnesota itu.

Tetapi semua kehebatan IO mendapat ujian ketika beliau menghadiri undangan di Gedung Putih utk sebuah acara pelatihan terkait pembuatan kebijakan publik. Saat IO naik taksi, ia mengalami pelecehan rasial dan tindakan intoleran. Sopir taksi yg ditumpanginya bukan saja melecehkan IO dg kata-kata kasar, menyebutnya anggota ISIS, dan mengeluarkan ujaran kebencian karena ia Muslim yang mengenakan jilbab dan berkulit gelap, tetapi bahkan juga mengancam akan merobek jilbabnya. Masih untung IO bisa melarikan diri dari taksi tsb dan selamat dari pelecehan rasis.

Kisah seperti ini hari-hari ini banyak dilaporkan media AS dan dikaitkan dengan kemenangan Donald Trump (DT) sebagai Presiden AS yg platformnya sangat anti asing, Islamophobia, anti imigran, dan misoginistik (anti-perempuan). Walaupun tidak secara langsung, namun kemenangan DT menambah ketegangan dan ketidaknyamanan iklim kehidupan bermasyarakat di negara demokratis yang paling panjang dan paling modern di dunia itu. Intoleransi yg ada dalam sebagian masyarakat AS seperti terlepas dari belenggunya dan kini mengamuk mencari mangsa. Kendati IO adalah termasuk warganegara yg kelas sosial serta status sosialnya tinggi, tetap saja menjadi sasaran intoleransi. Apalagi kalau di lapis lebih bawah, tentu kekhawatiran maraknya xenophobia, rasisme, kekerasan, dan diskriminasi akan merebak juga.

Inilah pelajaran yg bisa kita peroleh bahwa kerja mengakkan demokrasi tak ada istilah selesai dan sempurna. Bangsa Indonesia yg telah bersepakat menerapkan sistem demokrasi, sesuai konsitusinya, juga mesti selalu awas dan waspada thd ancaman intoleransi dlam berbagai bentuk dan wujudnya. Jangan sampai ada kesalahpahaman dan pemahaman yang salah bahwa sistem demokrasi yang keliru, tetapi pelaksanaan dan pelaksana sistem tersebut memang harus terus menerus dikembangkan dan diperbaiki. Demokrasi Konstitusional adalah satu-satunya pilihan sistem politik di negeri ini yg diamanatkan oleh para pendiri bangsa dan NKRI

Simak tautan ini:
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS