Saturday, April 29, 2017

BALADA DEMOKRASI YANG TERLUKA




Oleh Muhammad AS Hikam

Di antara ribuan karangan bunga
Memenuhi pagar Balaikota
Berjajar di pelataran Monas dan jalan raya
Demokrasi terengah, tubuhnya penuh luka
Matanya tertutup menahan terik Sang Surya

Sudah delapan bulan ia coba bertahan
Diantara desah kerkhawatiran, ketakutan, kegaduhan
Diantara perempuan dan lelaki dalam kerumunan
Diantara suara-suara teriakan penuh kegeraman
"Tangkap, penjarakan, hancurkan!"

Ia berusaha tersenyum dan menyimpan asa
Ia berusaha tegar dan menahan lara
Ia tak henti menebar opitimisme dan sukacita
Ia bergeming dalam doa
"Semoga Tuhan membuka hati mereka"

Tubuh yang semula gagah
Kini kanvas lukisan darah
Orang-orang lewat mengumbar serapah:
"Rasakan kau sudah kalah
Tak tahu diuntung, tak mau menyerah!"

Karangan bunga semakin berdatangan
Ia coba sembunyi mencari perlindungan
Dari terik mentari, dari kemarahan
Sesekali mencari makna pada pesan-pesan
Adakah yang masih memberinya harapan

Nafasnya makin satu satu berdegup
Matanya pelan-pelan mengatup
Suaranya rintihan makin redup
Ia bertanya: "Masih adakah harganya hidup?"

Seorang anak tiba-tba mendekati
Ditangannya, air mineral dan sepotong roti
Sambil berkata hati-hati:
"Ibu berpesan buatmu, demokrasi
Kamu jangan mati!"

Ia tersenyum melambaikan tangan
Kepada si kecil pembawa harapan
Terbata ia ucapkan:
"Terimakasih kawan.."
Dan rohnya terbang penuh kedamaian.

Pamulang, 29 April 2017
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS