Wednesday, December 27, 2017

HAUL KE 8 ALMAGHFURLAH GUS DUR: MELANJUTKAN LEGACY TOLERANSI

Acara tahunan memperingati sewindu (8 tahun) wafatnya KH. Aburrahman Wahid (Gus Dur), yang dalam tradisi pesantren disebut dengan "Haul", diselenggarakan di rumah kami, Jl. Lamtoro 71-72, Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kami mengundang pembicara yang memiliki visi Gusdurian dan merupakan sahabat dekat beliau. Dr. Mohamad Sobary, MA, cendekiawan terkemuka dan penulis prolifik berkenan memberikan tausiahnya pada pagi tgl 24 Desember 2017 yang cerah itu. Temanya adalah "Gus Dur dan Toleransi di NKRI."

Ada yang istimewa dalam acara Haul kali ini. Kehadiran tamu rombongan jamaah pengajian "Wisata Hati" dari Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, sebanyak 250 orang, membuat semarak dan sekaligus membahagiakan. Kehadirian mereka mempererat tali silaturrahim dengan para tetangga kami dan undangan lain. Hadir juga Ibu Dr. Saraswati Sunindyo, seniwati Indonesia dan telah lama bermukim di Seattle, AS, yang kebetulan sedang pulkam. Beliau berkenan menampilkan musik religi yang digubahnya, melalui alat musik kentrung, yang membuat acara Haul semakin meriah dan sekaligus bernuansa rohani.

Dr. Sobary memberikan testimoninya mengenai toleransi yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Gus Dur. Menurut sosiolog itu, toleransi almaghfurlah GD jauh lebih mendalam ketimbang kebanyakan orang, karena beliau bukan hanya berwacana tetapi juga membela pihak-pihak yang menurut beliau teraniaya, dengan segala resiko yang akan dan harus dihadapi. Kelebihan inilah yang menjadi legacy almaghfurlah GD bagi kehidupan bangsa Indonesia. Legacy ini menjadi sangat relevan saat ini ketika bangsa Indonesia kini sedang menghadapi ancaman intoleransi dan radikalisme.

Dalam wawancara setelah acara selesai, budayawan yang akrab dipanggil Kang Sobary ini juga mengelaborasi bagaimana pihak-pihak penyebar radikalisme menggelar pengaruhnya di sektor-sektor strategis, seperti lembaga pendidikan tinggi. Dengan strategi ini, kaum radikal kemudian berhasil menginflitrasi dan menyebarkan ideologi Khilafahisme yang pada hakekatnya bertujuan untuk merubah bentuk NKRI menjadi bentuk lain yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Sebagai tuan rumah, saya mengingatkan beberapa pokok komitmen Gus Dur yang harus terus dikembangkan: pluralisme & kebangsaan, perlindungan HAM, demokrasi & demokratisasi, serta anti-kekerasan. Toleransi merupakan salah satu landasan utama bagi terwujudnya komitmen-komitmen tsb. Tanpa toleransi, tak mungkin akan terwujud dan terbuhul hubungan harmonis dan produktif yang memungkinkan semua komitmen tersebut bisa dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Silakan simak video yang ditautkan ini. Trims (MASH)
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS