Monday, June 11, 2018

AN INCOVENIENT TRUTH?: VERSI LAIN MUNDURNYA YUDI LATIF


Ketika saya baca berita mundurnya Yudi Latif (YL) dari jabatan Ketua BPIP, saya memosting status di TL ini, dan berharap bhw sebabnya bukan karena konflik internal. Sesudah itu muncul penjelasan dari Istana dan BPIP sendiri, bahwa alasan YL adalah beban keluarga yang harus diurus ybs. Surat yang ditulis YL sendiri tak secara transparan menyatakan apa alasan beliau, hanya berbagai poin yang bisa ditafsirkan berbeda-beda juga.

Nah, kini ada versi "baru" yang bersumber dari seorang mantan tenaga ahli di BPIP, Damhuri Muhammad (DM), yang pernah bekerja dekat dengan YL selama setahun sebelumnya. Menurut hemat saya, penjelasan DM ini cukup menarik dan masuk akal ketimbang versi Istana dan BPIP, yang pernah disampaikan PJ, Mahfud MD, Johan Budi, Romo Benni, dll. (https://news.detik.com/berita/4060692/mahfud-md-yudi-latif-mundur-dari-kepala-bpip-mau-urus-keluarga)

Setidaknya kalaupun ada elemen masalah keluarga, tampaknya BUKAN merupakan alasan esensial atau menjadi inti masalah. Alasan esensial pengunduran diri YL adalah kondisi manajemen BPIP yang sebelumnya disebut PIP itu. Ternyata, menurut versi baru ini, ada masalah sangat serius dalam manajemen Kantor lembaga tsb yang membuat YL tak mungkin menjalankan tugas.

Selain fakta seperti anggaran yg tak turun selama setahun, juga ketidakefektifan kesekretariatan dan dualisme kepemimpinan di BPIP (silakan anda membaca tautan di bawah). Jadi, hemat saya, soalnya bukanlah masalah keluarga, atau tudingan soal besarnya gaji para pimpinan BPIP, tetapi masalah yang lebih FUNDAMENTAL, yaitu Manajemen dan struktur organisasi yg DYSFUNCTIONAL.

Jika versi baru ala DM itu benar, maka saya pribadi sangat bisa memahami kesulitan YL sebagai seorang CEO yang kewenangannya ternyata tak jelas; anggaran seret; dan pembuatan kebijakan yang tidak transparan. Jika perlu, mungkin DM ini silakan dikonfrontir saja agar publik tahu versi mana yang sahih.

Sambil menunggu kejelasan tsb, saya hanya bisa bertanya: "Bagaimana Kantor yang fungsinya menjadi referensi pelaksanaan Pancasila seperti BPIP, tetapi pengelolaannya amburadul seperti itu akan bisa efektif?" It's really beyond me.

Saya malah jadi salut kepada Yudi Latif atas keputusan beliau. Who is next?Simak tautan ini:

https://tirto.id/mantan-tenaga-ahli-bpip-ungkap-penyebab-yudi-latif-mundur-cL5k
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS