Thursday, January 24, 2019

PUISI UNTUK BASUKI TJAHAJA PURNAMA


PENGANTAR: Nyaris dua tahun lalu, tepatnya tgl 9 Mei 2017, Gubernur DKI saat itu, Basuki Tjahaya Purnama (BTP), yang akrab dengan panggilan AHOK, dijatuhi vonis oleh Majelis Hakim PN dengan hukuman penjara 2 (dua) tahun penjara, dan langsung masuk. Saya menulis sebuah sajak pada medio Mei yang sedianya akan saya posting. Namun baru hari ini (24/1/2019), saat beliau resmi telah menjalani hukuman dan keluar dari Mako Brimob, Kelapa Dua, saya memposting di TL ini. Semoga masih cukup relevan dan menjadi sebuah kenangan dan hadiah ucapan selamat bagi beliau. Trims (MASH)
===========================
BALADA SEORANG GUBERNUR TERPIDANA

Untuk Ahok

Oleh Muhammad AS Hikam

I

Mendung jelaga menutup matahari Jakarta
Teriakan para demonstran baku bicara
Tenggelamkan suara Majelis Hakim lewat pengeras suara
Satu demi satu terbata-bata
Membacakan vonis bagi sang terdakwa:

"Pertimbangan tuntutan Jaksa tak ada relevansinya
Pembelaan pengacara tak kuat argumennya
Pleidoi terdakwa tak jelas juntrungannya
Maka atas nama hukum & Tuhan Yang Maha Esa
Anda dinyatakan bersalah dan langsung masuk penjara!"

Palu Hakim Ketua diketok sudah
Dewi Keadilan sangsai dan lelah
(Di luar, para demonstran kian membuncah
Udara pengap, debu, dan asap campur amarah
Menyambut vonis Hakim tak bermarwah)

Tetapi sang terdakwa bergeming
Tak ada kesedihan, senyumnya tersungging
Suaranya datar mengajukan banding
Kepada pengacara dan para pendamping
Ia berbisik: "Jangan bimbang, jangan pusing!"

II

Ia tahu dirinya adalah domba
Untuk korban perebutan kuasa
Di atas altar kepentingan segelintir elit agama
Disokong oligarki partai dan pengusaha
Menjadi sebuah sasaran antara

Kerna kuasa sudah seperti narkoba
Tafsir ajaran Tuhan pun direkayasa
Jadilah ia seorang penista agama
Permohonan maafnya tak lagi berharga
Hanya satu yang penting: “Masuk penjara!”

Kerna ia tak mau kompromi
Walau jutaan massa datang beraksi
Ia masih yakin dengan demokrasi
Yang ia perjuangkan semasa reformasi
Enggan bertekuk lutut di depan mobokrasi

Baginya pengadilan adalah satu-satunya jalan
Kalah dan menang, tidak menjadi urusan
Hanya di sana ia bisa ungkap kebenaran
Baik perkataan maupun perbuatan
Tanpa rekayasa, tanpa kebohongan

Seperti kisah seorang filsuf agung
Socrates, sang pencerah ulung
Yang difitnah, diadili, dan dikurung
Ia dihukum minum racun dengan dakwaan lancung:
"Mengajar generasi muda berfikir adiluhung"

Baginya Gubernur adalah amanat
Agar dirinya menjadi pelayan rakyat
Memberantas korupsi, membabat praktik jahat
Di Balaikota, di Parlemen, di kantor Walikota dan Camat
Menghadapi para politisi dan konglomerat

Maka lawan-lawannya pun setuju
Ia mesti dihentikan lebih dahulu
Membiarkannya berkuasa adalah keliru
Kerna akan menjadi momok pengganggu
Untuk meraih posisi nomor satu

III

Ia kini menjadi seorang tahanan
Sikapnya mantap tanpa keraguan
Sebuah konsekuensi keyakinan dan tindakan
Sebuah resiko seorang pimpinan
Dalam rentetan dialektika perjuangan

Malam pertama di bilik penjara
Sang Gubernur lebur dalam doa:
(Di luar para pendukung berunjuk rasa
Dengan lilin, balon, dan bunga
Orasi bersemangat dan janji prasetya)

"Tuhan berikanlah mereka ketabahan
Kerna aku tak lagi dalam barisan
Dan suaraku tak lagi menjadi teriakan
Balaikota bukan lagi arena perjumpaan
Antara diriku dan rakyat yang sarat persoalan

Semoga Engkau berikan kekuatan
Kepada mereka melanjutkan perjuangan
Melawan kebencian dan kelaliman
Berlindung di balik agama dan kekuasaan
Di bawah bendera permusuhan dan perpecahan

Tuhan,
Maafkanlah kesalahan hambaMu
Dan juga kesalahan mereka yang bersamaku
Berikan ketulusan dalam hati kami selalu
Dalam bekerja untuk negeri dan bangsaku
Amin.."

(Pagi itu sebuah karangan bunga
Teronggok di pintu jaga
Di pita putih tertulis kata-kata:
"Pak Gubernur, walau badan Anda di dalam penjara
Namun semangat Anda ada dimana-mana.")

Pamulang, medio Mei 2017
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS