Friday, February 7, 2020

BELAJAR DARI KEGADUHAN KAUKUS DI IOWA


Kandidat Presiden dr partai Demokrat AS, Senator Bernie Sanders (BS), menyatakan diri sebagai pemenang dalam kaukus di negara bagian Iowa. Beliau mengumumkan hal tsb setelah lebih dr 3 hari pihak penyelenggara, Partai Demokrat Iowa (IDP), tak jelas posisinya sementara publik di seluruh AS bertanya-tanya, berspekulasi, dan bahkan bercuriga thd kekacauan yg terjadi dalam proses penghitungan suara pada kaukus yg berlangsung tgl 3 Februari tsb.

Persoalannya agak sederhana sebetulnya. Yaitu kegagalan applikasi utk hitung suara elektronik yg digunakan oleh panitia. Namun, kegagalan tsb ternyata tak segera diperbaiki oleh IDP dan bahkan dimanfaatkan olh dalah seorang kandidat, Pete Buttigieg (PB), untuk MENGKLAIM kemenangan sepihak!

Kontan terjadi kegaduhan publik, khususnya di antara pendukung BS. Sebab bukan saja Senator dari negara bagian Vermont tsb selalu unggul dlm survei, tetapi juga fakta bahwa di sekitar 1700 TPS kaukus di Iowa, suara yang mendukungnya merata dan sangat besar! Belakangan kecurigaan publik makin kuat karena app yg digunakan IDP ternyata bikinan perusahaan IT yg punya kedekatan dg Hillary Clinton dan ada sumbangan dana dr PB sendiri! Masalah menjadi makin ribet karena oknum elit partai Demokrat pusat, DNC, termasuk Ketuanya, Tom Perez (TP) tak bersikap fair dan transparan, bahkan cenderung memihak (biased) kpd PB.

Laporan terakhir setelah penghitungan suara diatas 90% menunjukkan bhw BS memenangi pengumpulan suara di Iowa dg selisih 6000 suara dibanding PB. Memang masih belum jelas berapa jumlah delegasi yg akan diperoleh BS, tetapi besar kemungkinan akan mengungguli PB atau setidaknya sama!

Dari kaukus Iowa ini kita bisa belajar bbro hal. Secara normatif, kita jadi sadar bahwa pelaksanaan sistem demokrasi memerlukan pengawasan publik di negara manapun, termasuk negara paling lama berdemokrasi spt AS. Berikutnya, kongkalikong antara elit parpol dan kandidat tertentu yg disukai elite, tapi tak populer di mata publik, sangat bisa terjadi.

Selanjutnya, akal-akalan dan manipulasi politik dan teknis bisa saja dilakukan oleh mesin parpol. Jika publik tidak awas dan kritis, maka kadalisasi proses pemilihan akan terjadi. Dalah satu yang paling mengerikan adalah jika kadalisasi itu menggunakan teknologi CANGGIH spt applikasi program penghitungan suara.

Menarik bahwa dlm kasus di Iowa itu, pihak BS sehak awal telah menyarankan kpd pendukungnya agar mereka tetap melakukan pencatatan MANUAL thd hasil kaukus di seluruh TPS. Dan cara ini ternyata masih yg PALING EFEKTIF sebagai pembanding thd hasil dari app, dan mengembalikan kepercayaan publik thd proses penyelenggaraan kaukus / Pemilu!

Partai Demokrat AS kini sedang menghadapi tantangan serius: degradasi integritas moral politik di ranah internal, dan lawan politik yang sangat Machiavellian secara eksternal, yakni Trump. Nasib Pilpres 2020 di AS akan sangat ditentukan oleh kemampuan partai Demokrat mengusung capres yang bukan saja kapabel, tetapi juga memiliki otoritas moral politik yg tinggi. Jika tidak, AS akan menuju kepada kemunduran dan posisinya sebagai negara rujukan praktik demokrasi akan makin dipertanyakan.

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS