Friday, October 22, 2010

PEMANASAN MENJELANG RESHUFFLE (2): GOLKAR VS PKS REBUTAN MENTERI ESDM

Oleh Muhammad AS Hikam
President University


Mungkin masih ada yang ingat artikel saya tentang pemanasan menjelang Reshuffle Kabinet antar parpol. Saya waktu itu menganalisa serangan dadakan PKS terhadap PAN, ketika Anis Matta (AM) mengritik kinerja Patrialis Akbar (PA) dan mungkin Hatta Rajasa (HR) yang dianggap kurang optimal sehingga perlu diganti. Kini datang giliran PKS disindir oleh Partai Golkar (PG), gara-gara Zoelkiflimansyah, Wakil Ketua Fraksi PKS di DPR usul agar menteri ESDM diganti dengan Dahlan Iskan (DI), yang kini Dirut PLN.  Priyo Budi Santoso (PBS) pun segera mengomentari bahwa PKS dipersilahkan saja punya usul, tapi yang menentukan Presiden.

Jadi ada benarnya perkiraan saya bahwa parpol-parpol anggota Setgab memang sedang saling sikut, baik secara terbuka maupun tertutup. Ditambah lagi dengan "provokasi halus" yang dilancarkan oleh Partai Demokrat (PD) dengan berakrab ria bersama PDIP, sehingga spekulasi pun meruyak bahwa KIB II pasca Reshuffle akan diisi juga dengan wakil dari partai banteng moncong putih itu. Tentu saja ini akan mekin menghangatkan pertarungan antar parpol tersebut. PG dan PKS sudah buru-buru memberi angin segar kepada PDIP, demikian juga PKB. PAN masih belum bersuara, tapi kelihatannya juga tak bisa berbuat apa-apa kalu itu terjadi. Tinggal mBak Mega saja yang akhirnya akan memutuskan apakah pinangan Pak SBY nanti diterima atau beliau akan tetap menggeleng.

Seserius apa PKS menyorongkan Dahlan Iskan sebagai pengganti Darwin Z Saleh? Agak sulit untuk memastikannya karena secara resmi memang belum ada usulan dari partai berlambang bulan sabit dobel itu. Bahkan sementara petinggi PKS masih mengatakan wacana soal DI itu masih pada tataran pribadi Bang Zoel, panggilan akrab Zoelkiflimansyah. tetapi saya kira itu hanya soal waktu saja, kalau memang nama DI tidak menciptakan resistensi dari "pasar politik" bukan tidak mungkin PKS serius.

Toh, PKS harus juga menyadari bahwa menteri-menterinya yang sekarang sedang banyak disorot publik. Khususnya Pak Tif, Soeswono, dan Suharna yang masih belum menunjukkan kinerja yang bisa dibanggakan. Bahkan dalam hal Pak Tif kritik tajam dari publik sudah sangat sering terdengar. Karenanya jika PKS terlihat sangat aktif menggunakan jurus bertahan dan sesekali menyerang, bukanlah hal yang aneh.

Yang aneh, untuk saya, kenapa PKS mengajukan DI? Jika DI dianggap sangat kompeten, saya masih belum melihat kompetensi beliau dalam mengurus PLN, kecuali dalam soal menaikkan TDL. Kalau Bang Zoel mangatakan DI tidak menciptakan benturan kepentingan (conflict of interest), saya kira juga tidak terlalu benar. DI adalah pengusaha media yang sangat powerful dan juga seorang pemilik pembangkit listrik di Kaltim yang besar. Dua bisnis tersebut merupakan bidang strategis dan sumber kekuasaan politik yang luar biasa. Menguasai kkementerian ESDM dan jejaring media paling akbar di negeri ini tentu adalah impian setiap orang yang ingin menjadi politisi top.

PKS memang piawai dalam melakukan rekrutmen politik dan pilihan kepada DI adalah buktinya. Hanya saja akan sangat disayangkan bila parpol yang mengklaim sebagai partai bersih dan berkualitas ini kemudian ujug-ujug mengambil jalan pintas merekrut sosok memiliki resistensi tinggi seperti DI. Mungkin dalam pikiran PKS, DI adalah sosok yang akan bisa menjadi tambang suara di Jatim yang masih merupakan daerah yang cukup sulit ditembus oleh partai Islam yang satu ini. Dengan kekuatan media dan finansial seorang DI, maka Jatim diperkirakan akan bisa terbuka untuk ditaklukkan pada 2014 nanti.

Tentu langkah PKS akan membuat parpol anggota Setgab lainnya harus segera merespons, dan tampaknya Golkar yang juga ingin bisa menembus Jatim merasa kecolongan dengan manuver ini. Sejauh ini PD masih belum bereaksi, tetapi jika memang Menteri ESDM yang sekarang kemungkinan besar akan diganti, maka rada sulit bagi PKS untuk bersaing dengan partai sang Presiden.

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS