Sunday, October 10, 2010

PERANG "CARANGAN" DI SENAYAN: MARZUKI ALIE VS BAMBANG SOESATYO CS

Oleh Muhammad AS Hikam
President University


Setelah babak pemanasan, kini babak berikutnya dari pertikaian antar-politisi di Senayan terkait calon Kapolri digulirkan. Ibarat pertunjukan wayang kulit, perang carangan sudah dimulai, antara para punakawan dan Cakil dan kawan-kawan. Pastilah ada "buto mati sore" alias raksasa yang mati duluan dalam perang carangan seperti ini. Kita sama-sama akan lihat bagaimana keributan yang dipertunjukkan oleh mereka dalam segmen ini yakni anggota Komisi III DPR-RI melawan boss DPR, Marzuki Alie (MA). Terus terang, secara proibadi saya tidak terlalu happy dengan prilaku Bambang Soesatyo cs yang kesannya suka mencari gara-gara dan menyulut kegaduhan tanpa melihat lebih dulu masalah dan akibatnya. Namun saya jauh lebih tidak happy lagi, atau bahkan sangat kecewa, terhadap Ketua DPR-RI dan para wakilnya yang telah memamerkan contoh buruk di depan publik dengan manuver konyol mereka: mengundang Pak Timur Pradopo (TP) untuk sebuah pertemuan tertutup sebelum fit and proper test dilakukan oleh Komisi III (Hukum) DPR-RI.

Perseteruan internal antar wakil rakyat seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi dan jelas tidak elok dilihat oleh rakyat di negeri ini dan diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Bagaimana mungkin seorang ketua DPR dalam seminggu diprotes dua kali oleh anak buahnya, karena prilakunya yang tidak menampilkan sosok pemimpin sebuah lembaga negara yang menjadi pilar demokrasi. MA mengucapkan kata-kata yang sangat tidak berbobot ketika mendapatkan dirinya diprotes (mosi tak percaya) oleh anak buahnya di Komisi yang merasa dilangkahi. Semestinya Pak Ketua bisa bersikap lebih arif dan melakukan pendekatan kepada para anggota Komisi yang mungkin masih belum tahu juntrungannya mengenai pertemuan yang ia lakukan bersama para pemimpin DPR yag lain dengan Komjen Timur.Gara-gara sikap yang dianggap arogan itulah kini MA diusulkan dibawa ke Badan Kehormatan oleh Komisi III. Dan, asal tahu saja, bukan yang pertama kalinya MA diperlakukan seperti ini selamam memimpin DPR-RI kurang dari setahun ini.

Supaya kita adil juga, Bambang Soesatyo (BS) maupun Prof. Gayus Lumbuun (GL) dkk. juga mestinya tidak terlalu memperpanjang masalah dan mengancam membawa ke Badan Kehormatan DPR, jika memang berniat baik untuk menghindari kegaduhan. Saya kira sudah cukup bagi rakyat disuguhi kejutan-kejutan dan tontonan yang makin lama makin menampilkan kelas anggota DPR yang malah lebih rendah dari level Taman Kanak-Kanak (untuk meminjam istilah dari alm. Gus Dur). BS dkk harusnya lebih fokus kepada persiapan untuk melakukan uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) kepada calon Kapolri, dan mengesampingkan pertikaian dengan MA. Nanti apabila sudah usai mengurus kepentingan negara dan rakyat dengan uji kelayakan itu, masih bisa diurus lagi  masalah internal DPR dengan Pak Ketua dan para Wakilnya.

Rakyat, saya kira, akan makin muak dengan permainan-permainan kurang berbobot untuk disaksikan seperti ini. Apalagi kalau kemudian tercium bau menyengat adanya tawar-menawar politik antar-pihak yang berseteru. Masih banyak sekali urusan-urusan yang lebih besar dan berkaitan dengan kerja sebagai wakil rakyat, ketimbang saling menampilkan kegagahan (posturing) karena ego masing-masing terhina. Rakyat ingin melihat DPR mengurus masalah penting seperti perlunya seorang Kapolri yang makin mampu mengayomi, melayani, dan melindungi rakyat. Kalau DPR yang punya kewajiban melakukan fit and proper test malah asyik bersitegang dan berbakuhantam satu sama lain, sudah pasti hasilnya tak akan optimal.

Semoga para politisi Senayan semakin mampu menggunakan nalar sehat dalam berkiprah membela kepentingan rakyat.


Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS