Saturday, January 24, 2015

GAGALNYA "OPERATION SHOCK & AWE" VERSI BARESKRIM POLRI


Memantau peristiwa penangkapan Waka KPK, Bambang Wijoyanto (BW), kemaren (23/1/15) terasa seperti menonton K-Drama atau serial TV Hollywood. Plot yang dirancang dan digelar dalam drama penangkapan tsb, bisa saja diilhami oleh operasi tentara AS ketika menyerang Irak untuk menangkap dan menghukum Preside Saddam Husein (SH), yang populer dg istilah "shock and awe" (S &A, kejut dan kagum). Doktrin perang ini berlandaskan pada penggelaran kekuatan yg luar biasa, manuver-2 dominan di palagan tempur, dan pengerahan kekuatan senjata yang spektakuler. Tujuannya adlh utk melemahkan dan melumpuhkan persepsi musuh ttg kondisi palagan tempur sehingga semangat dan kemauan mereka utk berperang hancur lebih dulu. (http://en.wikipedia.org/wiki/Shock_and_awe).

Aparat Bareskrim Polri kemaren jelas sekali mencoba menggunakan taktik intimidatif dg pengerahan dan penggelaran pasukan yang luar biasa (overwhelming) thd BW, seorang sipil yang sama sekali tidak memperkirakan (apalagi siap) utk disergap dan ditangap seperti layaknya teroris atau anggota geng yg bersenjata dan mampu melawan! Aksi penggelaran tsb tujuannya pertama adalah membuat shock BW dan sekaligus kagum dalam pengertian takut thd kedigdayaan Polri. Sesuai doktrin S&A, tdk penting apakah manuver tsb proporsional atau lebay, legal atau tidak, etis atau tidak. Yg penting adlah tujuan intimidasi psikologis thd BW, keluarganya, dan kalau mungkin KPK serta para pendukungnya. Jika berhasil, maka BW akan kuncup nyalinya, menyerah dan menuruti maunya Polisi, dan KPK akan gentar thd Polri. Walhasil, kegagahan dan kedigdayaan Polri mirip seekor buaya di depan seekor cicak. Jika ini berhasil, maka publik pun akan bisa dibuat kagum sekaligus ciut thd kekuatan yg namanya Polri.

Sayangnya, sama dg opeasi yg diperntahkan oleh Presiden Bush pd 2003 di Irak, operasi "kejut dan kagum" Polri kemaren gagal total. Alih-2 BW, KPk, dan publik ciut dan terpesona kepada Polri, justru malah sebaliknya. Kritik, kecaman, hujatan dan protes serta aksi-2 unjukrasa massif di hampir seluruh negeri "tumplek blek" ditujukan kepada Polri, khususnya Bareksrim. Kendati BW sempat ditahan cukup lama, tetapi pada saat yg sama popularitas Polri pun terjun bebas ke dasar jurang. Operasi perang psikologis Bareskrim ini gatot alias gagal total karena Polri mengabaikan bukan saja aturan hukum dan politik, tetapi juga keadaban publik. Bareskrim merasa pede karena punya kuasa, senjata, dan wewenang. Sayang ia lupa bhw BW adalah representasi dari superhero bagi rakyat yg sekaligus menjadi korban dari sistem politik dan kekuasaan korup. BW yg tampak sendiri, lemah, tak punya senjata, ternyata memiliki dukungan kekuatan raksasa yg tidak mungkin dilemahkan hanya oleh intimidasi psikologis Polisi.

Seperti dalam drama "Cicak vs Buaya" episode 1 dan 2, sang Cicak bergeming oleh gertak sang Buaya dlm episode ke 3 ini. Wahasil, operasi "S&A" yg digelar Bareskrim Polri thd BW dan KPK berujung dg kegagalan yg malah memalukan Polri, bangsa Indonesia, dan NKRI. 
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS