Friday, March 13, 2015

"JULIE BISHOP, SHUT THE HECK UP!"

Rasanya belum pernah saya baca atau dengar permintaan yang begitu meremehkan martabat dan harga diri bangsa Indonesia, Pemerintah Indonesia, dan akal waras melebihi permintaan Menlu Ausie, Julie Bishop (JB). Kalau kemudian Bu Retno Marsudi (RM), Menlu RI, mengatakan kecewa, itu saya kira masih sangat sopan. Seandainya beliau membalas dengan ucapan yang lebih keras dari itu pun rasanya masih wajar. Soalnya, kalau benar ada surat JB yang isinya tawaran dari Pemerintah Australia utk menanggung biaya hidup penjahat narkoba, Sukumaran dan Chan, jika hukuman keduanya diubah dari hukuman mati menjadi penjara seumur hidup, maka itulah sebuah peremehan atau "condescension" yg luar biasa. Ini sudah bukan soal hukum atau diplomasi lagi, saya rasa, tetapi penghinaan, 'pure and simple,' dari seorang pejabat Ausie thd negeri ini.

Buat saya, tawaran JB yg satu ini jauh beda secara prinsipil dengan pertukaran tahanan narkoba antara RI dan Ausie. Yg disebut terakhir itu masih ada nalarnya dan bisa didiskusikan.  Tapi yg pertama itu merepresentasikan apa yang sering disebut sebagai superioritas ego kolektif yang bermuatan kebencian dan pelecehan terhadap liyan (others). Indonesia, dalam pandangan orang-2 seperti JB adalah negara yg dihuni bangsa dan manusia miskin, kelaparan, bodoh, dan tidak beradab. Ini berbeda dengan negara dan bangsa Ausie, khususnya mereka yang berkulit putih seperti JB, yg superior, beradab, dan kaya. Konsep kedaulatan negara dan bangsa, bagi JB, tidak ada berarti apa-apa bagi bangsa dan negara yang biadab, bodoh, dan miskin seperti Indonesia. Dalam konstruksi pikiran JB, negara seperti Indonesia hanya perlu uang, bukan kedaulatan ataupun penghargaan terhadap kedaulatannya. Kalaupun ada formalitas aturan yang dipakai dalam hubungan kedua negara, maka dalam nalar JB, semua itu hanya semu saja utk menutupi agenda yg sebenarnya: keperluan mendapat uang.

Genealogi superioritas ego JB tidak terlalu sulit utk ditemukan dan dirunut kembali dari kolonialisme yang arketipenya masih menempel kuat dalam psyche orang-2 seperti itu. Kendati JB mencoba utk menutupi dengan perilaku luar yang beradab di balik kecanggihan dan sofistikasi diplomasi, tetapi pada momen-2 seperti ini, ketika kekuasaannya terganggu, akhirnya meletup juga ke permukaan. Orang tidak perlu menjadi pakar psikoanalisa utk mengetahui bahwa omongan JB merupakan refleksi suatu kecemasan laten, khususnya menghadapi situasi politik dalam negeri yang sedang mengancam kedudukannya.

Jadi Bu Menlu RM masih sangat santun dan sopan dalam menyikapi omongan JB. Beliau hanya bilang kecewa. Orang seperti saya, akan membalas JB dengan: "Shut the heck up and don't mess with our country!!." Sebab rasanya hanya dengan gaya Ahok itu saja orang seperti JB dkk itu paham bahwa negara dan bangsa Indonesia punya marwah dan berkedaulatan. 


Simak tautan ini:

http://nasional.kompas.com/read/2015/03/12/22235451/Menteri.Retno.Kecewa.dengan.Pernyataan-pernyataan.Menlu.Australia.Julie.Bishop?utm_campaign=popread&utm_medium=bp&utm_source=news
 
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS