Sunday, April 5, 2015

KEBERHASILAN IRAN DALAM PROGRAM NUKLIR

Satu langkah maju kembali dicapai oleh Republik Islam Iran (RII) dalam mengupayakan pembangunan PLTN, setelah negara para Mullah itu menandatangani kesepakatan dengan negara-2 besar atau yang disebut 5+1 (AS, Russia, Perancis, Inggris, Tiongkok, dan Jerman). Kendati kesepakatan ini masih perlu dibuktikan tiga bulan kedepan apakah akan ditindaklanjuti dengan kesepakatan kerangka kerja dengan perincian untuk mencapai kesepakatan akhir dan menyeluruh, toh dunia pada umumnya menyambut sebagai kemajuan yang signifikan. Tentu saja selain Israel yg ditopang oleh para seteru politik Presiden Obama di AS.

Perjuangan Iran merupakan contoh nyata bahwa jika sebuah bangsa benar-2 bersatu dalam menggolkan sebuah program yang akan membawa kemajuan di dalam kehidupan antar-negara, maka tidak ada kekuatan yang akan mampu menghambat terlalu lama. Iran, yang telah memulai proses pembangunan PLTN sejak era rezim Shah Reza Pahlevi, tanpa pernah surut melanjutkannya dengan dukungan penuh seluruh komponen bangsa. Rakyat Iran bisa saja berkonflik mengenai masalah politik dan bahkan bisa berdarah-2, tetapi kalau mengenai gagasan dan program PLTN, nyaris semuanya bersepakat bahw negerinya mesti berhasil. Di ranah internasional, Iran meyakinkan dunia bahwa negeri tsb tetap dalam jalur NPT (Non-Proliferation Treaty) atau perjanjian pembatasan nuklir yang dikontrol oleh PBB secara ketat, agar tidak menjurus pada pembangunan senjata pemusnah massal, yaitu bom nuklir.

Tentu banyak pihak tak mempercayai Iran, terutama negeri-2 jiran , baik Arab maupun Israel. Demikian pula negara-2 adikuasa seperti AS dan Rusia yang masih was-was akan ambisi geopolitik rezim Mullah tsb utk menguasi kawasan. Namun fakta bahwa Iran bergeming dan stak terbendung dalam penguasaan Iptek nuklirnya, harus membuat negara-2 besar tsb melakukan kompromi. Ketimbang Iran melakukan pembangunan PLTN secara klandestin dan tak terkontrol, termasuk kemungkinan membangun persenjataan berkepala nuklir pun tetap berlangsung, lebih baik membuka jalan bagi sebuah solusi win-win. Pengalaman dengan Korut, Pakistan, India, dll ditambah hipokrisi Barat terhadap Israel yg merupakan satu02nya negara pemilih senjata pemusnah nuklir di kawasan, menempatkan mereka dlm posisi tak bisa terlalu banyak pilihan. Sementara Iran pun tdk mungkin ngotot menolak pengawasan internasional jika ia tidak ingin mengalami pengucilan, bikot ekonomi, dan gangguan politik terus menerus.

Pemerintah Presiden Hasan Rouhani (HR) ternyata lebih pragnatis ketimbang sebelumnya, Presiden Ahmadinejad (AD) yang cenderung konfrontatif. Barat yang sejatinya memerlukan partnership Iran utk menjaga kawasan dari ancaman destabilitas politik (yg tentu menggangu kepentingan ekonomi dan energi Barat), menunggu HR memegang kendali Pemerintahan agar bisa berunding. Dan inilah hasil maksimum yg sudah dicapai. tentu kendala ke depan masih ada, khususnya kemungkinan gangguan serangan militer Israel dan negara-2 Arab yg melihat Iran sebagai lawan eksistensial mereka, seperti Saudi Arabia. Namun demikian keberhasilan sampai tahapan ini jelas sebuah kemjuan signifikan bagi upaya Iran utk mewujudkan pembangunan PLTNnya yang telah berjalan lama.

Kapankah PLTN di Indonesia akan terwujud, dan apakah bangsa kita akan mampu kompak seperti Iran? Sebuah pertanyaan yang menjadi PR kita semua.

Simak tautan ini:

http://dunia.rmol.co/read/2015/04/05/198022/Obama-Galang-Dukungan-untuk-Kesepakatan-Nuklir-Iran-
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS