Saturday, May 27, 2017

MUHASABAH KEBANGSAAN (7): KERA DAN SEBONGKAH BATU INTAN

Oleh Al-l-Zastrouw

Sekumpulan kera sedang berebut memegang sebongkah batu intan permata yang indah berkilau. Mereka menimang sambil membolak balik bongkahan batu tsb, kemudian melemparkannya kepada yang lain.

Sebagian mereka kembali memungut batu yang terlihat mengkilat itu. Dipandanginya sambil memicingkan mata karena silau oleh pantulan kilatan cahayanya. Kera-kera itu makin penasaran, kemudian batu itu didekap dan dijilati. Tak ada rasa manis bahkan rasanya hambar cenderung pahit.  Karena tak ada rasa manis, mereka kembali melempar bongkahan batu intan itu.

Lemparan itu mengenai kera yang lain. Karena penasaran, kera yang terkena lemparan itu memungut batu imtan dan menggitnya kuat2. Batu itu terlalu keras sehingga giginya tanggal. Sang kera marah kemudian membanting dan menginjak-injak batu intan terrsebut.

Entah siapa yang memulai tiba-tiba kerumunan kera itu saling lempar memggunakan bongkahan batu hitam berkilau yg sebenarnya batu intan permata.

Tiba-tiba datang seseorang melihat kejadian ini. Dia tahu bongkahan batu hitam berkilau yang dilempar-lempar oleh gerombolan kera adalah batu intan. Melihat kejadian ini, orang tsb melempar beberapa butir pisang di tengah kerumunam kera yang sedang saling lempar bongkahan  batu. Kera2 itu segera berebut pisang dan meninggalkan bongkahan batu intan. Dengan modal beberapa butir pisang saja, orang tersebut bisa memungut dan menguasai bongkahan batu intan yang ditinggalkan oleh para kera.

Inilah tamsil kehidupan, kadang banyak orang bersikap seperti kera. Menyia-nyiakan sesuatu yang sangat indah, mulia dan berharga. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai alat untuk saling memukul, menyakiti bahkan melukai. Mereka tidak bisa menghargai sesuatu yang suci dan mulia sesuai dengan marwahnya dan menempatkannya sesuai  posisinya.

Banyak diantara mereka yang menukar keindahan dan kemuliaan bongkahan batu mulia dengan sebutir pisang karena kerbatasan nalar dan kedangkalan pikir, sehingga tidak bisa membedakan harga batu mulia dan sebutir pisang. Orang seperti ini juga tidak bisa menemukan keindahan dan kemuliaan batu mulia sehingga tidak bisa menempatkan dan memperlakukan sebagaimana layaknya.

Berapa banyak diantara kita, secara sadar atau tidak sadar, telah menjadikan sesuatu yang indah dan mulia hanya sebagai alat untuk saling melukai dan membenci. Betapa sering kita membuang hal-hal berharga hanya kerena dengki. Berapa banyak bongkahan intan permata dihancurkan karena  rasa permusuhan yg menutup kepekaan hati dan kecerdasan nalar.

Berkali kali sudah bangsa ini menyia-nyiakan orang baik dan pejuang yang ikhlas, menyingkirkan tokoh2 yang berkualitas dan berintegritas. Mereka dinista dan dilecehkan di negeri sendiri tapi sangat dikagumi dan diakui integritasnya oleh bangsa lain. Batapa sering bangsa ini menjadikan nilai dan ajaran agama yg indah dan mulia sbg alat menebar kebencian dan pemicu kekerasan yang mengancam memanusiaan. Ada  baiknya semua ini dijadikan bahan muhasabah bagi bangsa ini.

Jika suatu bangsa masih belum bisa membedakan antara bongkahan batu kali dan batu intan; jika suatu masyarakat msh belum bisa membedakan nilai sebutir pisang dengan  batu mulia, maka kita akan bisa melihat pada derajad mana peradaban bangsa tersebut berada. Karena hanya bangsa yang beradab yang memiliki kepekaan rasa dan kecerdasan nalar yang bisa mengetahui harga sebutir intan dan menikmati keindahannya. Hanya orang-orang beradablah yang bisa menghargai dan menempatkan bongkahan intan permata milikmya secara layak dan menjaganya agar tidak diambil orang lain. Sekalipun bongkahan intan tersebut tidak bisa bikin kenyang seperti sebutir pisang.**
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS